Sulawesitoday - Slogan "Polri Presisi" itu bagus. Indah didengar. Tapi di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, slogan itu terasa seperti barang pajangan. Berdebu. Kehilangan makna.
Lihatlah apa yang terjadi di Sausu Torono. Khususnya di Kawasan Mentawa. Air sungainya tidak lagi jernih. Sudah lama berubah menjadi kubangan lumpur pekat. Kasihan para petani lokal. Irigasi perkebunan mereka rusak. Sawah mereka terancam. Semua akibat pengerukan gila-gilaan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Ini bukan cerita baru. Yang baru dan bikin elus dada adalah dugaan kembalinya "aktor lama" ke lokasi. Namanya Edhy Jaya. Dia oknum anggota Polres Parimo. Bayangkan. Seorang penegak hukum diduga kembali berkubang di area terlarang.
Baca Juga: Tolak Tambang di Parigi Moutong, Kades Posona Pilih Emas di Atas Tanah
Apakah pimpinan tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Sungguh aneh. Jika penegak hukum justru menjadi bagian dari ekosistem kejahatan lingkungan, kepada siapa lagi rakyat harus mengadu? Hukum otomatis lumpuh.
Borok ini makin menganga. Isunya menggelinding panas hingga ke lingkaran utama. Nama Kasatreskrim Polres Parimo, Iptu Anugerah S. Tarigan, ikut terseret. Dia diterpa isu miring, diduga membekingi kerabat dekatnya di bisnis PETI. Bahkan ada kabar miring soal pasokan BBM bersubsidi yang mengalir ke alat berat di sana.
Tentu, Iptu Tarigan membantah keras. Lewat hak jawabnya, dia menegaskan informasi itu tidak benar. Dia dan kerabatnya tidak terlibat. Dia berjanji akan menyapu bersih siapa saja yang bermain tambang ilegal.
Kita hargai bantahan itu. Wajib. Tapi publik tidak butuh sekadar bantahan di atas kertas. Publik melihat hal yang jauh berbeda nan mencolok di lapangan.
Ingat kejadian April lalu? Polres Parimo dan Ditreskrimsus Polda Sulteng bikin aksi hebat. Mereka turun ke lapangan. Menggerebek. Membakar talang kayu. Memasang garis polisi. Kamera media menjepret dari berbagai sudut. Gagah sekali.
Tapi mengapa setelah operasi besar itu berlalu, aktivitas ilegal di Sausu Torono kembali berdenyut? Mengapa aktornya itu-itu saja?
Wajar jika publik curiga. Jangan-jangan penertiban itu hanya riasan. Sekadar gimik berkala untuk menggugurkan kewajiban. Atau sekadar peredam gejolak media. Istilahnya: tajam keluar, tumpul dan penuh kompromi di dalam.
Baca Juga: Dugaan Alat Berat Andre Bebas Mengeruk Tambang Emas Ilegal Parigi Moutong, Seret Nama Kasat Reskrim
Aroma pelanggaran ini sudah terlalu pekat. Sampai-sampai Bidpropam Polda Sulteng dikabarkan harus turun tangan. Ini sinyal darurat.
Di mana Kapolres Parimo, AKBP Hendrawan? Dia pucuk pimpinan. Dia pemegang komando. Dia yang paling bertanggung jawab atas moralitas anggotanya. Ketika pengawasan melekat (waskat) mandul, maka kepemimpinan sang Kapolres patut dipertanyakan.
Artikel Terkait
Tiga Koperasi Merah Putih Parigi Moutong Resmi Beroperasi, Bupati Erwin Burase Siap Buktikan Desa Tidak Lemah
Dugaan Alat Berat Andre Bebas Mengeruk Tambang Emas Ilegal Parigi Moutong, Seret Nama Kasat Reskrim
Viral Petugas SPBU Toboli Sulteng Tantang Warga Viralkan Usai Diduga Curangi Takaran Pertalite
Pelarian Pelaku Penyekapan Mahasiswi Kaltara Berakhir di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Usai Buron Keluar Sulawesi
Tolak Tambang di Parigi Moutong, Kades Posona Pilih Emas di Atas Tanah