View this post on Instagram
Sulawesitoday - Air bersih di Kecamatan Petasia Kabupaten Morowali Utara kembali berubah menjadi kubangan lumpur pekat yang tidak layak konsumsi.
"Kami dipaksa mengonsumsi air berlumpur ini setiap kali hujan turun di area hulu," tulis netizen akun FB @ferhxxxxxxxmc, Sabtu 13 Juni 2026.
Kondisi memprihatinkan ini mengancam hajat hidup sekitar 28 ribu kepala keluarga yang menggantungkan kebutuhan harian mereka pada pasokan SPAM IKK Petasia.
Warga meyakini masalah ini bukan sekadar gangguan teknis biasa melainkan bukti nyata lemahnya pengawasan lingkungan dari pemerintah daerah.
Lumpur pekat diduga kuat berasal dari aktivitas pembukaan lahan oleh sejumlah perusahaan tambang raksasa yang beroperasi di kawasan hulu sumber air baku.
Lima perusahaan yang gencar disoroti warga adalah PT HIR, PT Trinusa Resources, PT SPS, PT SSP, dan juga PT STU.
"Perusahaan di hulu mengeruk keuntungan besar tetapi puluhan ribu warga di sini yang menanggung kerusakan lingkungannya," ujar netizen lain akun FB @muxxxxxxsyd dengan nada kecewa.
Bukaan lahan terindikasi kuat mengabaikan kaidah penambangan yang baik sehingga material tanah langsung longsor ke sungai saat curah hujan tinggi.
Petaka lingkungan ini terus terjadi berulang kali tanpa ada tindakan tegas dan solusi konkret yang menyentuh akar persoalan.
Artikel Terkait
Protes Makan Siang Gratis di Unhas Berbuntut Isu Drop Out Mahasiswa Teknik
Bau Busuk Karung Sampah di Pasar Pekkabata Polman Lumpuhkan Jual Beli
Anggota DPR RI Yoyok Riyo Kritik Koperasi Desa Merah Putih, Khawatir Hanya Jadi Antek Pabrik Besar
Uang Tabungan Hilang Misterius? Ini 5 Hak Nasabah dan Cara Klaim Ganti Rugi ke Bank
Menu Impor Makan Bergizi Gratis Bebani Rupiah, Pemimpin Badan Gizi Nasional Didesak Pakai Bahan Pangan Lokal