Sulawesitoday - Adakah batas pengabdian di tanah terpencil? Kisah pilu dari pedalaman Donggala, Sulawesi Tengah, baru-baru ini mengguncang media sosial. Sebuah video memperlihatkan jenazah seorang pria diangkut menggunakan sepeda motor, bukan ambulans, menyajikan gambaran nyata keterbatasan infra struktur di wilayah yang nyaris terlupakan. Peristiwa memilukan ini sontak memicu simpati sekaligus keprihatinan mendalam dari berbagai penjuru.
Video yang tersebar luas sejak Kamis (10/07) itu menampilkan warga dengan hati-hati mendudukkan tubuh kaku seorang pria berkemeja di atas motor.
Sebuah penyanggah kayu sederhana menjadi tumpuan agar jenazah tidak terjatuh, terikat kain, sembari diiringi isak tangis yang memilukan dari seorang perempuan. Pemandangan ini bak potret kelam dari perjuangan hidup di garis depan pelayanan.
Belakangan diketahui, pria dalam video tersebut adalah Ariel Sharon, seorang pegawai Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Donggala.
Tugas mulianya mengantarkannya hingga ke Kecamatan Pinembani, sebuah wilayah yang masyhur dengan medan terjal dan akses yang masih terpencil. Di sanalah, dedikasi Ariel Sharon berakhir, saat ia meninggal dunia kala menjalankan tugasnya di Desa Palentuma.
"Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Donggala menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah satu petugas kesehatan, atas nama Ariel Sharon," ujar Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, dengan nada pilu pada Jumat (11/07).
Kata maaf pun terucap dari bibir sang Bupati, ditujukan langsung kepada keluarga almarhum. Ia mengakui, keterbatasan jalan dan absennya mobil ambulans memaksa warga setempat membawa pulang jenazah Ariel Sharon hanya dengan sepeda motor.
Perisitiwa ini, sambung Vera, adalah sebuah "pukulan berat bagi kami semua." Lebih dari sekadar insiden, ini adalah pengingat betapa gentingnya pemerataan layanan dan akses kesehatan, khususnya di pelosok negeri. Bagi Pemkab Donggala, sosok Ariel Sharon adalah simbol keberanian; seorang pejuang kemanusiaan yang teguh mengabdi walau dalam berbagai keterbatasan.
Komitmen serius kini digaungkan. Pihak Pemkab Donggala berjanji akan segera mengevaluasi secara menyeluruh akses transportasi darurat dan fasilitas pendukung di wilayah pedalaman, terutama di Pinembani. Tujuannya satu: agar tragedi serupa tak lagi terulang di masa mendatang.
"Sebagai pimpinan, saya akan mengevaluasi secara serius dan tegas terhadap Dinas Kesehatan dan instansi terkait perihal pelayanan yang didapatkan salah satu nakes di Kecamatan Pinembani," tegas Vera. Permohonan maaf setinggi-tingginya kembali ia sampaikan kepada keluarga atas insiden yang tak terduga ini.