BUKAN SOAL TANGKAPAN, TAPI SOAL PENYELAMATAN
Yang menarik dari gerakan warga ini: motivasinya bukan ekonomi.
Ikan sapu-sapu bukan komoditas bernilai tinggi. Dagingnya tak banyak peminat. Harganya pun tak seberapa di pasaran. Namun warga tetap turun ke sungai, mengangkat jaring, membersihkan aliran air.
"Perburuan ikan sapu-sapu bukan soal hasil tangkapan, tapi tentang menyelamatkan lingkungan perairan," tegas unggahan yang turut menyertai video tersebut.
Para nelayan urban ini justru di dorong untuk menangkap sebanyak mungkin — bukan demi keuntungan pribadi, melainkan demi menjaga keseimbangan ekosistem sungai yang sudah lama terganggu. Sebuah ironi yang cukup mengharukan: warga biasa yang merawat infrastruktur kota, tanpa dibayar, tanpa seragam dinas.
VIRAL, TAPI BELUM CUKUP
Postingan @jakarta.terkini memang viral. Dua puluh enam ribu lebih likes bukan angka kecil. Tapi viralitas di media sosial dan perubahan nyata di lapangan adalah dua hal yang berbeda.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah ikan sapu-sapu berbahaya. Jawabanya sudah jelas: ya.
Pertanyaan yang lebih penting: apakah pemerintah kota Jakarta punya program pengendalian populasi ikan invasif yang serius, terstruktur, dan berkelanjutan? Atau cukup menunggu warga turun sendiri ke sungai setiap kali persoalan meledak di media sosial?
Sungai Jakarta sudah cukup lama menanggung beban. Sampah, limbah, banjir. Kini ditambah satu lagi: makhluk kecil bersisik keras yang diam-diam menggerogoti fondasi bantaran dari dalam.
Diam-diam. Tapi pasti.
Selat Hormuz Ditutup Lagi Kurang dari 24 Jam Setelah Dibuka oleh Iran