Lihat postingan ini di Instagram
Sulawesitoday - Logikanya sederhana: mana ada tokek harganya Rp1 miliar per ekor. Tapi bagi tiga warga negara Thailand, logika itu kalah oleh iming-iming "Tokek Emas". Kalau bukan karena kecurigaan seorang Rendra Bayu Alwana, uang Rp2 miliar milik mereka sudah pasti melayang ke tangan bandit yang pintar bersandiwara.
Rendra, pria 47 tahun asal Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, awalnya hanya heran. Ada minibus pelat kuning putar-putar di desanya. Rabu (15/4) lalu. Sudah 30 menit. Seperti orang linglung.
Sebagai warga yang peduli, Rendra mencegat mobil itu. Ia pikir wisatawan tersesat. Maklum, Sarongan memang pintu masuk menuju Sukamade yang eksotis itu. Tapi begitu pintu terbuka, bahasa yang keluar bukan Inggris, apalagi Jawa. Mereka bicara bahasa Thailand.
Rendra tidak menyerah. Ia keluarkan jurus pamungkas: Google Translate.
Lewat layar ponsel, komunikasi terjadi. Betapa kagetnya Rendra. Mereka bukan mau lihat penyu bertelur di Sukamade. Mereka mau beli tokek. Harganya fantastis. Dua ekor dibanderol Rp2 miliar. "Saya langsung tahu, ini pasti tipu-tipu," ujar Rendra.
Naluri jurnalisme warga Rendra jalan. Ia minta para WNA itu menghubungi si penghubung, pria berinisial A. Terjadilah debat lewat telepon. Si A mulai gusar karena ada orang lokal yang ikut campur.
"Dia bilang saya tidak usah ikut campur," kata Rendra menirukan ucapan si A yang terdengar ketus. Tapi Rendra tidak mundur selangkahpun. Ia tegaskan kepada si penelepon: "Ini desa saya, jangan sampai nama desa jadi jelek karena penipuan."
Si A rupanya pemain kawakan. Dia bisa bahasa Thailand lewat chat, tapi kalau bicara langsung, logat Jawanya kental. Ciri khas sindikat profesional. Ia tidak tahu medan Sukamade yang ekstrem. Ia hanya tahu cara memancing orang luar negeri untuk datang bawa uang.
Hampir satu jam Rendra meyakinkan ketiga warga Thailand itu. Bahwa "Tokek Emas" di Sukamade itu mitos. Bahwa mereka sedang masuk ke lubang buaya. Akhirnya, sadar juga mereka. Saat itu juga, nomor si A diblokir.
Kepala Polsek Pesanggaran, AKP Maskur, mengonfirmasi kejadian ini. Polisi memastikan si A bukan warga setempat. Untungnya, transaksi belum tuntas, meski kabarnya uang muka sudah sempat berpindah tangan.
Rendra tak mau ambil risiko. Ia kawal ketiga warga asing itu sampai ke wilayah Kecamatan Gambiran. Memastikan mereka aman menuju Bandara Juanda untuk terbang balik ke Bangkok.
Ini bukan pertama kali. Dulu ada warga Jogja yang juga nyaris kena tipu modus serupa di sana. Rupanya, Sarongan sering dijadikan lokasi fiktif untuk transaksi barang-barang gaib yang tak masuk akal.
Pelajaran dari Sarongan: Di jaman serba canggih ini, aplikasi terjemahan pun bisa menyelamatkan devisa orang asing dari serakahnya oknum nakal. Banyuwangi memang ramah, tapi tidak untuk para penipu.
Artikel Terkait
Viral Foto Kontras MBG vs SD Negeri, Warganet: Miris dan Nyesek
Viral Pelajar SMP Seberangi Sungai Lewat Pipa PDAM: Sudah Lama, Belum Ada Solusi
Pemda Gagal Distribusi Anggaran, Puskesmas di Parigi Moutong Terpaksa Ngutang ke Pihak Swasta
Setahun Berlalu, Selang Oksigen Diduga Dipotong — Kasus Kematian Penyelam Rahman Hambali Masih Gelap
Ikatan Jurnalis dan Pemkab Majene Kompak Jenguk Insan Pers Sedang Jalani Pemulihan Kesehatan