LPG Kita Impor 70 Persen, Tapi Harga Masih "Anteng"
Sulawesitoday – Indonesia itu unik. Urusan perut alias gas dapur, 70 persennya masih bergantung pada kiriman kapal dari luar negeri. Harusnya, kalau dunia sedang batuk-batuk karena geopolitik, harga LPG di pangkalan sudah panas dingin. Tapi masuk April 2026 ini, api di kompor emak-emak nampaknya masih bisa biru tanpa perlu menguras kantong lebih dalam.
Ekonomi memang sering kali tidak bisa ditebak hanya pakai rumus matematika di atas kertas.
Di Tangerang Selatan, misalnya. Harga si "Melon" 3 kilogram di pangkalan resmi masih setia di angka Rp 19.000. Memang, kalau sudah sampai di warung pojok atau pengecer, harganya melar sedikit jadi Rp 22.000. "Ya, ada biaya angkut sama untung sedikit lah, Mas," ujar seorang pengecer di kawasan Serpong. Itu manusiawi. Namanya juga jasa antar sampai depan pintu.
Bagaimana dengan si "Pinky" 5,5 kg dan abangnya yang 12 kg? Ternyata sama saja. Tidak ada kejutan pahit di awal bulan ini. Di tingkat pengecer, tabung 5,5 kg masih nongkrong di kisaran Rp 110.000. Sedangkan yang 12 kg masih anteng di angka Rp 210.000.
Pemerintah nampaknya sedang kerja keras pasang badan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sudah mewanti-wanti sejak awal. Stok aman. Titik. Meskipun pasokan kita masih sangat bergantung pada impor, diversifikasi sumber gas nampaknya mulai membuahkan hasil. Kita tidak lagi menaruh semua telur dalam satu keranjang.
"Di tengah ketidakpastian geopolitik global, pasokan energi Indonesia masih terkendali," tegas Bahlil dalam sebuah kesempatan baru-baru ini. Intinya: masyarakat jangan panik. Pasokan BBM dan LPG diklaim melimpah di seluruh pelosok nusantara.
Distribusi juga dilaporkan lancar jaya. Tidak ada antrean mengular yang biasanya jadi menu utama kalau barang mulai langka. Jalur-jalur logistik dari *filling plant* ke agen terpantau normal tanpa hambatan berarti.
Namun, yang namanya Indonesia, geografi adalah tantangan. Harga di Jawa tentu beda dengan di ujung Papua. Jarak 60 kilometer dari lokasi pengisian adalah batas toleransi. Lebih dari itu, ongkos kirim mulai bicara.
Berikut adalah peta harga di agen resmi per April 2026 (termasuk pajak):
Kesimpulannya sederhana: untuk saat ini, urusan gas masih aman terkendali. Harga stabil adalah kemewahan ditengah situasi dunia yang tidak menentu. Tapi tetap saja, ketergantungan impor 70 persen itu ibarat bom waktu yang harus terus dijinakan dengan strategi kedaulatan energi yang lebih paten lagi kedepanya.
Untuk sementara, emak-emak bisa bernapas lega. Setidaknya sampai bulan depan.
Artikel Terkait
Viral Pelajar SMP Seberangi Sungai Lewat Pipa PDAM: Sudah Lama, Belum Ada Solusi
Pemda Gagal Distribusi Anggaran, Puskesmas di Parigi Moutong Terpaksa Ngutang ke Pihak Swasta
Setahun Berlalu, Selang Oksigen Diduga Dipotong — Kasus Kematian Penyelam Rahman Hambali Masih Gelap
Ikatan Jurnalis dan Pemkab Majene Kompak Jenguk Insan Pers Sedang Jalani Pemulihan Kesehatan
Modal Google Translate, Warga Banyuwangi Gagalkan Penipuan Tokek Emas Rp2 Miliar ke WNA