berita

Pahitnya Perjodohan Usia 33, Menolak Staycation Berujung Hinaan Tak Perawan dan Teror

Senin, 20 April 2026 | 19:23 WIB
Kisah pilu perempuan 33 tahun yang dihina tak perawan usai tolak ajakan staycation calon suami perjodohan. Tetap teguh jaga marwah meski ditekan ortu.

Sulawesitoday - Menikah itu ibadah. Begitu keyakinan perempuan, sebut saja Mawar, yang usianya sudah menginjak 33 tahun. Di usia kepala tiga, harapan untuk naik pelaminan tentu membuncah. Apalagi lewat jalur perjodohan yang dianggap lebih "aman". Tapi, apa jadinya kalau restu orang tua justru membentur tembok amoralitas?

Mawar menangis sesenggukan. Bukan karena bahagia, tapi karena luka yang menganga. Pria yang dikenalkan padanya—yang diharapkan jadi imam—ternyata punya standar lain soal komitmen. Belum juga tukar cincin, sang pria sudah berani mengajak "test drive". Modusnya klasik: staycation.

"Memangnya salah ya umur 30-an belum menikah dan menolak ajakan seperti itu?" ucapnya lirih di tengah isak tangis yang tumpah di media sosial.

Mawar tegas. Dia menolak. Baginya, kehormatan bukan barang dagangan yang bisa dicicipi sebelum akad. Tapi penolakan itu justru berbuah petaka lisan. Si pria murka. Caci maki meluncur deras. Mawar dituding sudah tidak perawan. Lebih kejam lagi, dia dianggap tidak layak "memilih" karena faktor usia. Seolah perempuan usia 30 ke atas adalah barang sisa yang harus laku bagaimanapun caranya.

Nomor telepon si pria diblokir. Beres? Belum. Teror berlanjut lewat nomor lain. Isinya tetap sama: merendahkan martabat. Penghinaan ini menyerang psikisnya hingga ke titik nadir.

Ironisnya, tekanan bukan hanya datang dari luar. Di dalam rumah, orang tuanya justru tetap mendorong agar pernikahan diteruskan. Sebuah dilema yang menyesakkan dada. Antara bakti kepada orang tua atau menjaga harga diri yang sedang diinjak-injak calon menantu pilihan keluarga.

Kasus ini kemudian viral. Netizen pun gaduh. Mayoritas berdiri di belakang Mawar. Mereka sepakat bahwa pernikahan bukan sekadar status di KTP atau pelarian dari kejaran umur. Pernikahan adalah soal saling menghargai.

"Jangan mau mbak, itu bukan jodoh, itu musibah," tulis salah satu komentar yang disukai ribuan orang.

Kisah Mawar menjadi refleksi pahit. Bahwa di tahun 2026 ini, masih ada saja anggapan kalau usia perempuan berbanding terbalik dengan haknya untuk dihormati. Padahal, urusan jodoh bukan soal cepat-cepatan, tapi soal ketepatan menjaga kehormatan. Mawar memilih mundur, dan itu adalah langkah paling berani yang bisa dilakukan seorang perempuan demi menjaga marwahnya.

Kadang, kesendirian memang jauh lebih terhormat daripada kebersamaan yang dipaksakan lewat jalan yang salah. Pernikahan itu suci, jangan dikotori dengan syahwat bertopeng perjodohan. Kita perlu belajar lagi soal adab, bahkan sebelum bicara soal cinta. Semoga Mawar-Mawar lain di luar sana tetap teguh, meski usia terus berjalan dan omongan tetangga makin pedas. Karena kehormatan tidak punya tanggal kedaluwarsa.

Kebakaran 1000 Rumah Apung di Sandakan Malaysia, Kemlu RI Pastikan WNI Selamat

Tags

Terkini