Sulawesitoday - Api itu tidak pilih kasih. Dia melahap apa saja yang dilewatinya. Terutama jika yang dilewati adalah "hutan" kayu yang berdiri rapat di atas air.
Minggu dini hari, 19 April 2026, Sandakan membara. Kawasan pemukiman terapung di Sabah, Malaysia, itu berubah menjadi lautan api. Dari 1.200 rumah yang ada, 1.000 di antaranya rata dengan air. Tinggal puing. Tinggal arang.
Tapi ada satu hal yang bikin dahi mengernyit: tidak ada korban jiwa. Bayangkan. Sembilan ribu orang lebih kehilangan tempat tinggal, tapi nyawa mereka selamat. "Ini adalah insiden berskala sangat besar dan memilukan," kata George Abd Rakman, Kepala Kepolisian Sandakan.
Mungkin Tuhan sedang memeluk warga di sana.
Di antara ribuan pengungsi itu, terselip wajah-wajah yang tak asing. Ada warga lokal Malaysia. Ada orang Filipina. Dan tentu saja: Warga Negara Indonesia (WNI). Kebanyakan adalah mereka yang menikah dengan penduduk setempat. Mereka kini mengungsi dengan baju di badan.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) di Jakarta langsung pasang mata. Lewat KJRI Kota Kinabalu, mereka menyisir tiap sudut pengungsian. Hasilnya melegakan. Sejauh ini, laporan yang masuk ke meja diplomat kita nihil kematian. Hanya luka-luka ringan. Biasanya karena panik menyelamatkan barang. Atau karena tertusuk paku saat lari dari kobaran.
"Hingga saat ini tidak terdapat laporan korban jiwa," tulis rilis resmi Kemlu hari ini.
Masalahnya sekarang adalah urusan perut. Dan urusan kertas. Banyak WNI yang kehilangan dokumen penting. Paspor terbakar. Izin tinggal jadi abu. Kemlu sudah berjanji: dokumen yang hangus akan segera diurus. Negara hadir di tepi pantai Sandakan.
Kenapa api begitu cepat mengamuk?
Sederhana. Rumah-rumah itu terbuat dari kayu. Dibangun berhimpitan. Begitu satu tersulut, yang lain tinggal nunggu giliran. Apalagi kejadiannya dini hari. Saat orang lagi enak-enaknya mimpi. Beruntung, insting bertahan hidup manusia jauh lebih cepat dari rambatan api.
Kini, tim pemadam kebakaran setempat masih mengorek sisa abu. Mencari tahu dari mana asalnya jago merah itu. Apakah karena korsleting listrik? Atau kompor yang lupa dimatikan? Belum ada jawaban pasti.
Yang pasti, Sandakan hari ini berduka. Tapi setidaknya, duka itu tidak dibarengi dengan tangisan di depan liang lahat. Ada harapan di balik sisa-sisa kayu yang menghitam itu. Tinggal bagaimana pemerintah Malaysia dan perwakilan kita di sana bergegas memulihkan hidup 9.007 jiwa yang kini tak punya atap.
Nasib memang tidak ada yang tahu. Hari ini punya rumah di atas laut, besoknya hanya punya kenangan di bawah langit.
Sentilan JK Soal 'Ternak Mulyono' dan Jawaban Menunduk Jokowi, Saya Hanya Orang Kampung
Artikel Terkait
Wanita Medan Nekat Sandera Pegawai Toko HP Usai Rugi Rp10 Juta dari Promo Palsu
Kisah Inspiratif Endiah Puji Hastuti, Nenek Ahli Nuklir Lulusan Tertua di Wisuda ITB 2026
Warga Keluhkan Jalan Gelap, Anggaran Perawatan Lampu Hanya Rp200 Ribu per Titik Setahun
Bukan Pesta Biasa, Siswa SD di Parigi Moutong Serbu Kantor BPBD Demi Belajar Selamat
Sentilan JK Soal 'Ternak Mulyono' dan Jawaban Menunduk Jokowi, Saya Hanya Orang Kampung