Sulawesitoday - Hujan deras menenggelamkan sebagian Parigi Moutong. Tapi di ujung lain kabupaten yang sama, tanah justru pecah-pecah karena tak kenal hujan berminggu-minggu. Dua ancaman yang berlawanan itu kini mengepung warga secara bersamaan — dan BPBD diminta bergerak sebelum bencana datang mengetuk pintu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat merilis peringatan pada April 2026: Kabupaten Parigi Moutong tengah berada di masa peralihan musim. Masa yang selalu berbahaya.
Di Kecamatan Sausu, khususnya Desa Sausu Taliabo dan Desa Sausu Peore, sungai sudah meluap. Di Kecamatan Moutong, material penanganan banjir berupa geobag atau sandbag sudah dikirim. Tanda bahwa ancaman bukan sekadar prediksi — ia sudah datang.
BMKG memprakirakan hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir bakal mengguyur Kecamatan Tomini dan Tinombo Selatan. Wilayah lain seperti Tinombo, Balinggi, Ampibabo, Kasimbar, Siniu, dan Palasa diperkirakan menerima hujan ringan hingga sedang. Bukan hujan biasa — ini musim yang menyimpan tenaga besar.
Namun paradoks terjadi di sisi lain peta. Desa Pembuni dan Desa Siniu justru mengalami Hari Tanpa Hujan dalam kategori sangat panjang. BMKG mencatat potensi karhutla — kebakaran hutan dan lahan — di dua desa itu kian nyata. Kekeringan dan banjir terjadi di bumi yang sama, hanya beda beberapa kecamatan.
Belum selesai di situ. BMKG juga mengingatkan ancaman gempa bumi. Parigi Moutong berdekatan dengan Sesar Palu-Koro dan sejumlah sesar lokal di kawasan Teluk Tomini. Dua gempa besar pernah menghancurkan Sulawesi Tengah. Ingatan itu belum pudar.
"Kami mendesak BPBD untuk segera bersiap di wilayah-wilayah tersebut. Kita tahu sekarang sudah memasuki musim penghujan. Apalagi ada daerah-daerah yang sudah ditetapkan rawan bencana," kata Mastulah.
Mastulah adalah Ketua Komisi III DPRD Parigi Moutong, mitra kerja BPBD. Ia berbicara dengan nada yang tidak bertele-tele.
"Jangan nanti menunggu banjir besar baru bergerak. Seharusnya sudah ada persiapan, termasuk posko di daerah rawan. Ini bukan soal diminta atau tidak, tapi memang harus disiapkan," tegasnya.
Kalimat terakhir itu penting. "Bukan soal diminta atau tidak." Mastulah seolah ingin mengatakan: kesiapsiagaan adalah kewajiban, bukan respons terhadap tekanan.
Wilayah selatan dan utara Parigi Moutong sama-sama masuk dalam radar kewaspadaan. Mastulah menyebut Taopa dan Moutong sebagai dua titik yang harus diperhatikan ekstra. Keduanya punya sejarah terdampak banjir saat cuaca ekstrem datang.
"Biasanya kalau kondisi seperti ini, bisa terjadi banjir besar. Ada beberapa daerah, termasuk wilayah selatan dan utara seperti Taopa dan Moutong, yang harus diwaspadai," jelasnya.
Komisi III menutup pernyataannya dengan satu harapan yang sederhana namun tegas: BPBD harus selalu siap — bukan siap setelah ada korban, tapi siap sebelum bencana menuntut siapa yang harus disalahkan.
Parigi Moutong bukan kali pertama menghadapi ancaman berlapis seperti ini. Tapi setiap musim peralihan selalu punya caranya sendiri untuk menguji kesiapan daerah. Pertanyaannya bukan apakah bencana akan datang — pertanyaannya adalah apakah kita sudah berdiri di depan pintunya sebelum ia mengetuk.