Di era attention economy, perhatian penonton memang harus direbut. Namun, perhatian yang didapat dari cara menipu (manipulasi) akan hilang dengan cepat. Sebaliknya, perhatian yang didapat karena modal jujur dan tepercaya (kredibilitas) akan melahirkan rasa percaya dari masyarakat. Rasa percaya itulah aset terbesar yang dimiliki oleh pers.
Oleh karena itu, saya yakin profesi ini butuh cara pandang baru. Bukan untuk membuang ilmu jurnalistik, melainkan untuk menyelamatkannya agar tetap dibutuhkan dan disukai masyarakat. Wartawan hari ini bukan lagi sekadar penulis berita. Ia adalah seorang kreator yang bekerja dengan aturan jurnalistik, yang menghubungkan fakta kepada masyarakat lewat berbagai format dan media sosial.
Sudah waktunya kita memanggil mereka dengan nama yang sesuai dengan kenyataan zaman: Creator Pers. Bukan karena dunia jurnalistik sudah berubah menjadi industri hiburan, melainkan karena cara membuat dan menyebarkan beritanya yang sudah berevolusi. Nilai-nilai pers tetap sama. Yang berubah hanyalah cara menyajikannya kepada masyarakat. Mereka yang mampu menguasai perubahan inilah yang akan menentukan masa depan industri media di Indonesia.
Bagaimana menurut Anda mengenai istilah "Creator Pers" ini untuk menggambarkan profesi wartawan zaman sekarang?