Produk media saat ini bukan cuma tulisan (teks). Setiap hari, media memproduksi:
- Video pendek dan video panjang.
- Podcast dan siaran langsung (live).
- Infografik dan konten geser (carousel).
- Buletin digital (newsletter) hingga konten interaktif.
Semua itu adalah karya kreatif hasil dari proses diskusi redaksi (editorial). Bedanya, Creator Pers membuat karya kreatif yang isinya berdasarkan fakta dan data yang sudah diperiksa kebenarannya.
Tantangan di Era Attention Economy (Ekonomi Perhatian)
Perubahan ini makin terasa karena di era digital, perhatian masyarakat adalah hal yang paling mahal. Kita hidup di zaman attention economy. Nilai sebuah konten tidak lagi dinilai dari seberapa mahal modal pembuatannya, melainkan dari kemampuannya menarik perhatian orang di tengah banjir informasi yang tidak ada habisnya.
Dunia pers tidak bisa lari dari kenyataan ini.
- Jika berita tidak menarik, berita itu tidak akan dibaca.
- Jika video jurnalistik gagal membuat jempol pengguna media sosial berhenti bergulir (scrolling), maka informasi yang benar akan kalah telak oleh konten yang sekadar bikin heboh (sensasional).
Oleh karena itu, kemampuan membuat konten yang menarik bukan lagi sekadar nilai plus, melainkan keahlian wajib yang harus dimiliki pekerja media.
Sekarang, ruang redaksi modern butuh keahlian yang jauh lebih luas daripada sekadar pintar menulis. Wartawan zaman sekarang harus:
- Paham cara bercerita lewat visual (visual storytelling).
- Bisa dan berani berbicara di depan kamera.
- Menguasai kemampuan edit video.
- Paham cara mengoptimalkan platform digital (media sosial).
- Bisa membaca data perilaku penonton.
Mulai terbiasa menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat kerja tanpa merusak keakuratan berita.
Mereka bukan lagi sekadar pelapor berita (reporter). Mereka adalah produser konten jurnalistik, kreator informasi, alias Creator Pers.
Ekosistem yang Masih Tertinggal
Sayangnya, perubahan besar ini belum didukung oleh lingkungan sekitarnya. Banyak kampus atau sekolah jurnalistik masih mendidik mahasiswa mereka untuk bekerja di ruang redaksi masa lalu yang sebetulnya sudah berubah. Banyak perusahaan media juga masih mengukur produktivitas karyawan dengan standar lama. Bahkan, beberapa aturan hukum masih menganggap wartawan adalah profesi yang hanya bekerja untuk media cetak atau televisi konvensional saja.
Padahal, masyarakat sekarang tidak lagi mencari berita berdasarkan nama besar media. Mereka mencari informasi lewat platform. Berita pertama yang mereka tahu bisa saja muncul dari TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, atau grup WhatsApp. Bagi anak muda zaman sekarang, halaman depan sebuah media bukan lagi situs utama web berita, melainkan halaman For You Page (FYP) mereka.
Jika cara penyebaran informasinya sudah berubah total, mengapa kita masih mendefinisikan profesi ini dengan cara lama?
Menatap Masa Depan Media
Menerima istilah Creator Pers bukan berarti menghapus identitas asli wartawan. Justru sebaliknya, istilah ini mempertegas bahwa profesi pers terus berkembang mengikuti teknologi tanpa membuang nilai moral dan etikanya.
Kita juga harus berhenti membedakan antara pers dan ekonomi kreatif. Pers adalah bagian dari ekonomi kreatif karena menghasilkan karya intelektual dan karya asli (orisinal). Pers membuat cerita, gambar, suara, dan pengalaman digital yang dinikmati jutaan orang setiap hari. Itu adalah proses kreatif yang punya nilai ekonomi sekaligus fungsi sosial.
Namun ingat, Creator Pers tidak boleh menjadi budak algoritma. Di saat perhatian orang menjadi hal yang dikejar, godaan untuk membuat konten viral dengan mengorbankan kebenaran akan selalu ada. Di sinilah batas tegasnya: Creator Pers boleh paham cara kerja algoritma, tapi tidak boleh tunduk padanya. Mereka memakai media sosial sebagai jalur penyebaran saja, bukan menjadikan sistem media sosial sebagai penentu kebenaran.
Masa depan dunia media tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak menulis berita. Masa depan pers ditentukan oleh siapa yang paling hebat mengubah fakta menjadi konten yang tepercaya, menarik, mudah dimengerti, dan bisa disebarkan ke masyarakat luas.
Artikel Terkait
Gempa Venezuela M7,2 dan M7,5 Aktifkan Ring of Fire ke Indonesia? Ini Data Validnya
DPRD Parigi Moutong Dorong Aparat Usut Penyelewengan Barcode BBM Subsidi Petani Nelayan
Anleg I Ketut Mardika Desak Pengusutan Sindikat Barcode Solar Subsidi Nelayan Parigi Moutong
Soroti Sengkarut Barcode Solar, Ni Wayan Leli Pariani Minta Hulunya Dibenahi Agar Petani Tak Dikorbankan
Bupati Erwin Burase Bentuk Tim Terpadu Tertibkan Barcode BBM Subsidi di Parigi Moutong Demi Petani dan Nelayan