Oleh: Agus Sulistriyono (CEO Promedia Group)
Opini Sulawesitoday - Ada satu kenyataan yang mulai kita rasakan, tapi sering kali masih malu-malu untuk diakui secara terbuka: profesi wartawan sekarang sudah berubah total. Fungsi pers sebagai penjaga demokrasi dan aturan main jurnalistiknya memang tidak berubah. Namun, cara kerja, keahlian yang dibutuhkan, lingkungan kerja, hingga tempat mereka bertarung mencari pembaca sudah jauh berbeda.
Sayangnya, perubahan cepat ini tidak dibarengi dengan cara pandang kita. Banyak orang masih punya pola pikir masa lalu dalam melihat profesi wartawan.
Dulu vs Sekarang
Kita mungkin masih membayangkan wartawan sebagai orang yang datang ke lokasi acara membawa buku catatan, wawancara, menulis berita, lalu menyetorkannya ke redaktur (editor). Dulu, gambaran itu memang benar. Tapi sekarang, hampir tidak ada lagi kantor berita yang bekerja dengan cara sekuno itu.
Wartawan zaman sekarang datang ke lokasi bermodalkan smartphone di tangan. Tugas mereka sangat banyak, antara lain:
- Merekam video vertikal dan mengambil foto.
- Melakukan siaran langsung (live).
- Menulis berita sekaligus membuat naskah video.
- Mengedit video sendiri, memilih foto sampul (thumbnail), dan menambahkan teks (subtitle).
- Mengunggah dan membagikannya ke TikTok, Instagram, YouTube Shorts, Facebook, X, dan platform digital lainnya.
Setelah semua itu beres, tugas mereka belum selesai. Mereka masih harus membaca data performa konten, memahami cara kerja algoritma media sosial, melihat berapa lama orang menonton video mereka (retention rate), mengukur interaksi (engagement), dan memikirkan cara agar berita tersebut bisa menjangkau lebih banyak orang.
Jika kita jujur, semua aktivitas di atas sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh seorang content creator (kreator konten). Di titik inilah batasan antara pekerja media dan pekerja industri kreatif menjadi sangat tipis.
Baca Juga: Postingan Facebook Tidak Muncul di Beranda Teman? Ini Solusi dan Rahasia Algoritma Terbaru
Apa Perbedaan Wartawan dan Content Creator?
Perbedaannya bukan lagi pada kamera yang dipakai, aplikasi edit video yang digunakan, atau media sosial tempat mereka berbagi konten. Sebab, keduanya sering menggunakan alat yang sama, membuat format yang sama, dan sama-sama rebutan perhatian penonton di dunia internet.
Pembeda utamanya hanya satu hal yang sangat penting: disiplin jurnalistik.
Catatan Penting: Seorang content creator bebas menentukan sudut pandang, gaya penyampaian, bahkan tujuan keuntungan mereka sendiri. Sebaliknya, seorang wartawan tetap terikat pada aturan wajib: cek dan ricek (verifikasi), berimbang, tidak memihak (independen), mementingkan masyarakat luas, dan patuh pada kode etik jurnalistik. Nilai-nilai inilah yang menjaga agar sebuah informasi tidak sekadar menjadi barang dagangan yang murahan.
Karena alasan itulah, menurut saya sebutan "wartawan" saja sudah tidak cukup lagi untuk menggambarkan profesi ini. Profesi ini sudah berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas. Saya menyebutnya: Creator Pers.
Mengenal "Creator Pers"
Creator Pers adalah pekerja media yang memproduksi, mengemas, dan menyebarkan karya jurnalistik dalam berbagai format digital, dengan tetap mematuhi kode etik jurnalistik.
Istilah ini bukan sekadar keren-kerenan, melainkan sebuah pengakuan atas perubahan besar di dunia media. Selama bertahun-tahun, industri media sering dianggap berbeda dengan industri kreatif. Seolah-olah media hanya membuat berita, sedangkan industri kreatif membuat konten. Padahal, jika melihat proses kerjanya sekarang, media adalah salah satu industri kreatif terbesar di Indonesia.
Artikel Terkait
Gempa Venezuela M7,2 dan M7,5 Aktifkan Ring of Fire ke Indonesia? Ini Data Validnya
DPRD Parigi Moutong Dorong Aparat Usut Penyelewengan Barcode BBM Subsidi Petani Nelayan
Anleg I Ketut Mardika Desak Pengusutan Sindikat Barcode Solar Subsidi Nelayan Parigi Moutong
Soroti Sengkarut Barcode Solar, Ni Wayan Leli Pariani Minta Hulunya Dibenahi Agar Petani Tak Dikorbankan
Bupati Erwin Burase Bentuk Tim Terpadu Tertibkan Barcode BBM Subsidi di Parigi Moutong Demi Petani dan Nelayan