Ancaman Serangan Siber Meningkat di Sulawesi Tengah, Dwi Kardono: CSIRT dan Kesadaran Masyarakat Kunci Pertahanan
Sulawesitoday - Ancaman serangan siber di Sulawesi Tengah kian mengkhawatirkan. Hal ini diungkapkan Sandiman, Ahli Madya BSSN RI Dwi Kardono dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Dinas Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik (Kominfosantik) se-Sulawesi Tengah Tahun 2024, Rabu 15 Mei 2024.
"Tren anomali trafik keamanan Siber Nasional periode 1 Januari hingga 31 Desember 2023 mencapai 403.990.813. Angka ini menunjukkan tingginya potensi serangan siber yang dapat terjadi," ungkap Dwi Kardono.
Ia menjelaskan bahwa berbagai jenis serangan siber seperti malware, phishing, web defacement, dan kebocoran data dapat membahayakan sistem informasi dan data penting.
"Oleh karena itu, perlu dibentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) di setiap daerah di Sulawesi Tengah," ujar Dwi Kardono.
CSIRT adalah tim yang bertugas menangani insiden keamanan siber secara sistematis. "CSIRT akan memberikan layanan dan dukungan kepada konstituen yang telah ditetapkan untuk mencegah, menangani, dan merespon insiden keamanan komputer (siber)," jelasnya.
Selain CSIRT, Dwi Kardono juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan siber. "Masyarakat perlu mengganti password secara berkala, melakukan maintenance berkala pada server, dan menemukan Root Cause problem," sarannya.
Ia berharap dengan upaya bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat, serangan siber di Sulawesi Tengah dapat diatasi.
Sudaryano R. Lamangkona, Kadis Kominfo Santik Provinsi Sulteng, mendukung pembentukan CSIRT di daerah-daerah. "Kami akan mendorong pembentukan CSIRT di setiap daerah di Sulawesi Tengah," ujarnya.
Aswin Saudo, Sekretaris Dinas Kominfo Santik Provinsi Sulteng, menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan sosialisasi tentang keamanan siber kepada masyarakat.
"Kami akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan siber," jelasnya.