berita

Jenazah Ramli Nelayan Asal Jeneponto Tiba di Rumah Duka, 500 Pelayat Sambut Histeris Usai Tenggelam di Perairan Labuan Bajo

Jumat, 20 September 2024 | 15:59 WIB
Jenazah Ramli tiba di rumah duka Jeneponto setelah tenggelam di perairan Labuan Bajo, menyisakan duka mendalam bagi keluarga. (Nur Rafiqa)

Sulawesitoday - Kisah tragis tenggelamnya Ramli, seorang nelayan asal Jeneponto, Sulawesi Selatan, berakhir pada Kamis malam (19/9/2024) dengan kedatangan jenazahnya di rumah duka. Rumah duka yang berlokasi di Dusun Bungung Camba, Desa Tarowang, Kecamatan Tarowang, dipadati oleh sekitar 500 pelayat yang berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir.

Suasana haru menyelimuti seluruh area saat mobil ambulance yang membawa jenazah Ramli tiba pada pukul 22.49 WITA.

Suara tangis tak terbendung saat peti jenazah Ramli dibawa masuk ke rumah. Bahkan, seorang wanita yang merupakan keluarga korban tak kuasa menahan kesedihan dan pingsan ketika melihat peti jenazah. Momen ini menambah kedukaan yang mendalam bagi keluarga dan kerabat Ramli, yang telah menunggu kepastian nasibnya setelah dinyatakan hilang sejak Minggu, 15 September 2024.

Ramli, yang berusia 31 tahun, tenggelam bersama rekannya Saharuddin setelah perahu mereka diduga ditabrak oleh sebuah kapal besar saat sedang melaut di perairan Labuan Bajo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Jasad mereka baru ditemukan tiga hari kemudian, pada Selasa (17/9/2024), setelah mengapung di laut. Saharuddin, yang merupakan pemilik perahu, ditemukan lebih dahulu pada pukul 06.10 WITA, sekitar 300 meter dari lokasi kejadian.

Baca Juga: Kapal Pinisi Monalisa Angkut Wisatawan Tenggelam di Kawasan Taman Nasional Komodo Labuan Bajo: Oleng Diterjang Ombak

Setelah proses singkat di rumah duka, jenazah Ramli segera dikebumikan. Keluarga dan kerabat terus mengiringi prosesi pemakaman dengan doa dan isak tangis. Kecelakaan laut yang menimpa kedua nelayan ini telah menggetarkan seluruh masyarakat Desa Tarowang, yang sebagian besar warganya memang bekerja sebagai nelayan. Mereka semua berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk meningkatkan keselamatan saat melaut.

Kepala Desa Tarowang, Saharuddin Sila, yang juga aktif menyebarkan informasi mengenai kejadian ini di media sosial, mengungkapkan duka yang mendalam.

"Kami Pemdes Tarowang mengucapkan rasa prihatin dan duka yang mendalam atas kejadian yang menimpa warga nelayan kami atas nama Ramli dan Saharuddin," tulisnya dalam postingan di akun Facebooknya pada Senin (16/9/2024).

Kedua korban, Ramli dan Saharuddin, sebenarnya baru berada di NTT selama empat bulan untuk bekerja sebagai nelayan. Bersama 30 rekannya, mereka merantau ke wilayah tersebut dengan tujuan mencari nafkah melalui kegiatan menjaring ikan. Menurut informasi dari Kepala Desa, mereka berencana kembali ke Jeneponto pada bulan Oktober 2024.

"Rencana itu bulan Oktober 2024 kembali semua ke Jeneponto, perahu itu dia pakai ke sana, perahu itu juga dia pakai kembali," kata Saharuddin Sila.

Peristiwa tenggelamnya kedua nelayan ini menjadi sorotan karena diduga kuat kapal besar yang menabrak perahu mereka berkontribusi pada kecelakaan fatal tersebut. Bangkai perahu korban ditemukan dalam kondisi rusak berat dan telah diamankan oleh pihak berwenang. Meskipun korban telah ditemukan, keluarga korban dan masyarakat setempat berharap agar kejadian ini diusut tuntas, dan pihak yang bertanggung jawab dapat ditemukan.

Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Tarowang. Kecelakaan laut memang menjadi risiko yang dihadapi banyak nelayan, namun kejadian ini menunjukkan bahwa pentingnya langkah-langkah keselamatan dan tanggung jawab pihak-pihak terkait untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.

Bagi keluarga Ramli dan Saharuddin, kenangan akan mereka akan selalu dikenang, sementara harapan untuk masa depan yang lebih aman di laut tetap menjadi doa bersama.

Tags

Terkini