Opini oleh Agus Sulistriyono (CEO Promedia Group)
Berita anak sekolah keracunan setelah makan di program Makan Bergizi Gratis (MBG) rasanya kok ada terus. Selesai di satu daerah, muncul lagi di daerah lain. Dapur ditutup, aturan diperketat, tapi tak lama kemudian kejadian lagi.
Kalau masalahnya berulang terus, kita tidak bisa cuma sibuk mencari siapa yang salah. Coba kita pikirkan hal yang lebih mendasar: jangan-jangan bukan cuma cara kerjanya yang keliru, tapi memang sistemnya yang perlu diubah?
Badan Gizi Nasional (BGN) memang sudah berganti pimpinan. Dapur-dapur bermasalah sudah ditertibkan dan pengawasan makanan diperketat. Ini langkah yang bagus, tapi ada satu masalah inti yang belum tersentuh: kenapa satu dapur harus masak sampai ribuan porsi setiap hari?
Memasak 3.000 Porsi Itu Sangat Sulit
Menyiapkan 3.000 porsi makanan dalam sehari itu bukan hal gampang. Bahan makanan harus dikirim, dicuci, dipotong, dimasak, dibungkus satu per satu, lalu diantar ke sekolah. Semuanya harus dilakukan dengan cepat supaya makanan tidak keburu basi.
Baca Juga: Siswi Korban Keracunan MBG di Karo Trauma: Saya Sudah Tidak Mau Makan MBG Lagi
Makin banyak makanan yang dibuat, makin rumit prosesnya. Salah sedikit saja di satu tahap, dampaknya bisa membahayakan ribuan anak. Jadi, daripada cuma sibuk memeriksa sertifikat atau kelengkapan petugas dapur, coba kita tanyakan: apakah masak 3.000 porsi dalam satu tempat itu memang aman?
Kenapa Tidak Dipecah Jadi 500 Porsi Saja?
Daripada satu dapur besar menanggung 3.000 porsi, kenapa tidak dipecah saja jadi 6 dapur kecil yang masing-masing cuma masak 500 porsi?
Angkanya tidak harus pas 500, bisa menyesuaikan daerahnya. Poin utamanya adalah membagi beban kerja. Dengan dapur yang lebih kecil:
Bahan makanan lebih mudah dikelola dan dibersihkan.
Masakan dan kebersihan lebih gampang diawasi.
Jarak antar makanan ke sekolah jadi lebih dekat.