Sulawesitoday - Mimpi masa depan cerah sirna dalam sekejap. Keluarga Hijrah (19) kini tenggelam dalam duka mendalam. Pegawai PT Permodalan Nasional Madani yang hijrah dari Maponu itu ditemukan tewas di kebun kelapa Desa Sarjo, Pasangkayu, Sulawesi Barat.
Tragedi ini bukan sekadar kehilangan nyawa. Ini adalah hancurnya harapan keluarga perantau. Mimpi mereka untuk hidup lebih baik berubah menjadi nestapa berkepanjangan.
Hijrah memilih meninggalkan kampung halaman. Tujuannya sederhana namun mulia. Mencari penghidupan lebih baik. Ia bergabung dengan PNM sebagai penagih kredit. Profesi yang penuh tantangan namun menjanjikan.
Keputusan hijrah bukanlah perkara mudah. Keluarga melepas dengan berat hati. Namun mereka memahami. Generasi muda butuh kesempatan lebih luas. Pasangkayu menjadi pilihan tepat saat itu.
-
Bagaimana Dampak Psikologis Menghantam Keluarga?
Kabar terakhir datang Kamis malam. Pukul 22.00 WITA, 18 September 2025. Hijrah mengirim pesan mengkhawatirkan kepada atasannya. Ia merasa terancam saat dibonceng nasabah.
Pesan itu menjadi tanda bahaya. Ponsel Hijrah mendadak tak bisa dihubungi. Keluarga panik. Mereka segera melaporkan ke polisi. Media sosial dipenuhi permintaan bantuan pencarian.
Dua hari penuh keluarga menunggu. Harapan dan ketakutan bercampur jadi satu. Setiap bunyi ponsel membawa harap-harap cemas. Akankah Hijrah kembali dengan selamat?
Penantian berakhir pahit. Sabtu, 20 September 2025, jasad Hijrah ditemukan. Kondisinya mengenaskan di kebun kelapa. Pakaian terikat di leher mengindikasikan kekerasan.
Shock psikologis menghantam keluarga. Ibu Hijrah pingsan mendengar kabar duka. Ayahnya terduduk lemas. Mimpi indah keluarga perantau hancur dalam sekejap.
-
Apakah Kondisi Ekonomi Keluarga Semakin Terpuruk?
Hijrah adalah tulang punggung keluarga. Gajinya sebagai penagih kredit menjadi harapan utama. Keluarga di kampung mengandalkan kiriman bulanannya. Kini sumber penghasilan itu hilang.
Biaya hidup terus berjalan. Sementara yang menopang sudah tiada. Keluarga kini menghadapi dilema ganda. Kehilangan orang terkasih sekaligus sumber nafkah.
Kerabat dan tetangga berusaha membantu. Namun bantuan temporer tak bisa mengganti penghasilan tetap. Masa depan keluarga menjadi tidak pasti. Anak-anak lain mungkin terpaksa ikut bekerja.
Ironisnya, Hijrah pergi untuk mengangkat ekonomi keluarga. Kematiannya justru memperburuk kondisi finansial. Tragedi ganda yang menyayat hati.
-
Mengapa Risiko Pekerja Lapangan Sering Diabaikan?
Profesi penagih kredit memiliki risiko tinggi. Mereka berhadapan langsung dengan nasabah bermasalah. Emosi yang memuncak kerap berujung konflik.
Artikel Terkait
KRI Lumba-lumba-881 Antarkan Kedaulatan Rupiah ke Pelosok Sulawesi Tengah
Menkeu Purbaya Buka Formula Rahasia Danai Tambahan Minyak Goreng 2 Liter untuk Bansos Pangan
KPK Ungkap Oknum Kemenag Peras Ustadz Khalid Basalamah Hingga Rp115 Juta Per Jamaah
Polisi ambil sampel makanan keracunan massal 277 siswa di Salakan, Banggai
Misteri Hilangnya Penagih PNM Berujung Tragis, Hijrah Ditemukan Tewas di Kebun Kelapa Pasangkayu, Sulawesi Barat