Sulawesitoday - Ada yang tumpah di Jalan Abd. Rahman Saleh, Palu. Bukan air, bukan kopi. Tapi darah—dari seorang kakek yang saban hari mungkin hanya ingin pulang tanpa ribut-ribut.
Sabtu petang, 17 Mei 2025, sekitar pukul 18.15 WITA, ia jadi sasaran pembegalan. Parang jadi alat ucapan selamat datang dari pelaku.
Lokasi kejadian, tepat di depan Vihara yang seharusnya jadi tempat tenang, berubah mencekam. Warga berkerumun.
Ada yang teriak. Ada yang mengangkat ponsel, merekam, dan mengunggah.
Akun @Fatih Fandy jadi yang pertama. Unggahannya viral dalam waktu singkat. Dalam video itu, sang kakek terlihat bersimbah darah.
Posisinya duduk limbung. Separuh sadar. Separuh lagi—mungkin sudah ingin menyerah.
Konon, pelaku hanya butuh beberapa detik. Tunjukkan senjata, ayunkan, dan kabur. Tidak diketahui apa saja yang dibawa kabur.
Tapi yang pasti: rasa aman ikut dicuri. Warga tak banyak bisa lakukan, selain membalut luka seadanya, lalu mengantar ke RS Samaritan. Sampai berita ini ditulis, kondisi korban masih dalam penanganan intensif.
Reaksi netizen tak kalah deras. “Kota Palu sedang tidak baik-baik saja,” tulis @Johani. Ada pula yang menanggapi dengan gaya satir: “Ngeri sekarang Kota Palu,” kata @onefighter sambil menambahkan emoji ketawa. Seolah lucu. Padahal tidak.
Sementara akun @Olive menulis, “Coba kasihan pak wali, gubernur Sulteng. Kota ini sudah tidak aman betul.” Lalu @Nunung, dengan jujur dan getir, menyimpulkan: “Semakin menakutkan Kota Palu, harus cepat ditangani.”
Baca Juga: Berani Terobos Lampu Merah? Kenali Risiko dan Pengecualian Darurat Menurut UU LLAJ
Pertanyaan publik sederhana: jika kakek pun bisa jadi sasaran, siapa yang tidak? Dan jika parang bisa diayun seenaknya di jalan kota, apalagi yang tersisa dari rasa aman?
Di kota yang katanya tengah tumbuh sebagai pusat pertumbuhan Sulawesi Tengah, seharusnya rasa takut tak menjadi oleh-oleh harian. Tapi rupanya, malam ini Palu sedang murung. Dan warganya dipaksa terbiasa.