"Jangan anggap Papua, apalagi Raja Ampat, sebagai tanah kosong yang bebas dijual dan digarap. Di sana ada manusia, ada sejarah, ada kehidupan yang harus dihormati," seru salah satu orator.
Sebuah pengingat telak bahwa Raja Ampat bukan sekadar peta, melainkan hamparan hidup yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah derasnya arus investasi, masyarakat adat dan pegiat lingkungan kian memancarkan semangat. Pembangunan, kata mereka, tak boleh mengorbankan alam dan budaya lokal.
Baca Juga: Video Viral Puluhan Jamaah Haji Sulteng Terlantar Tanpa Tenda, Tidur di Jalan
Raja Ampat, bukan hanya milik Papua, namun mahkota dunia yang harus dijaga bersama.
"Pembangunan sejati adalah yang berpihak pada alam dan manusia, bukan pada keuntungan sesaat," tutup pernyataan sikap mereka, mengakhiri aksi damai yang berujung ricuh di bandara Sorong.