Kasi Humas Polres Tolitoli, Iptu Budi Atmojo, tak menampik insiden ini. Ia mengkonfirmasi kebenaran video viral yang beredar luas di media sosial.
Begitu jelas gula pasir itu bukan sabu, kedua pria, R dan A, langsung dibebaskan dan diantar pulang ke rumah masing-masing.
Pihak Polres Tolitoli bahkan secara ksatria menyampaikan permohonan maaf kepada kedua pria dan keluarga atas kekeliruan yang terjadi.
"Tindakan anggota kami sudah sesuai prosedur operasional standar (SOP). Ini adalah respons cepat atas laporan masyarakat yang harus kami tindaklanjuti," terang Iptu Budi, mencoba meluruskan benang kusut yang sempat tercipta.
Baca Juga: Irak Murka 50 Jet Tempur Israel Diduga Simulasi Perang di Langit Baghdad
Menurut pengakuan R dan A, mereka memang sengaja membeli gula pasir dua kilo di Tolitoli. Alasannya klise tapi logis: harga di kampung mereka jauh lebih mahal.
Peristiwa ini, tak pelak, menjadi cermin bagi kita semua. Bahwa di tengah derasnya arus informasi, terutama di media sosial, kehati-hatian dalam menelaah sebuah kabar adalah mutlak.
Gula yang dikira sabu ini adalah pengingat betapa tipisnya batas antara realitas dan persepsi, serta betapa pentingnya verifikasi sebelum sebuah tuduhan melambung tinggi, bak bola panas yang sulit dikendalikan. Sebuah drama kota kecil yang berakhir tanpa air mata, melainkan seulas senyum kecut.