Sulawesitoday - Misteri terkuak. Potongan-potongan tubuh yang berserakan sepanjang jalur Pacet-Batu kini menemukan jawaban yang mengiris nurani. Pelaku berinisial AM (24), mantan jagal hewan ternak, resmi ditahan polisi atas kasus mutilasi sadis yang menewaskan kekasihnya sendiri, TAS (25), mahasiswi asal Mojokerto.
Fakta mencengangkan terungkap dalam penyelidikan intensif selama sepekan terakhir. Tim forensik Polda Jawa Timur berhasil mengidentifikasi total 76 potongan tubuh korban yang tercecer dalam radius 2 kilometer. Lebih mengejutkan lagi, proses autopsi mengungkap lebih dari 310 fragmen tulang dan jaringan yang dikumpulkan dari lokasi berbeda.
"Kondisi potongan tubuh sangat hancur. Hampir tidak ada bagian yang utuh kecuali beberapa telapak tangan dan kaki," ungkap Kapolres Mojokerto AKBP Dedy Prasetyo saat konferensi pers, Selasa (10/9/2025).
Tragedi berdarah ini bermula dari pertengkaran sepele di kamar kos kawasan Lidah Wetan, Surabaya, pada malam 31 Agustus 2025. Korban yang dikenal sebagai sosok mandiri dan rajin kuliah, mengunci pintu kamar ketika AM pulang larut malam. Kebiasaan korban mengunci kamar saat AM berada di luar telah menjadi sumber konflik berulang dalam hubungan mereka yang telah berlangsung 4-5 bulan.
Malam nahas itu, AM harus menunggu satu jam penuh di depan pintu kos. Emosi memuncak. Pertengkaran hebat pecah begitu pintu terbuka. Dalam amarah yang tidak terkendali, AM yang memiliki latar belakang sebagai jagal hewan ternak, menusukkan pisau dapur ke leher korban dari arah belakang.
"Pelaku mengaku merasa tertekan karena tuntutan ekonomi dan perilaku korban yang sering marah serta mengunci kamar," tambah Dedy menjelaskan motif yang melatarbelakangi kejahatan sadis tersebut.
Keahlian AM sebagai mantan jagal hewan menjadi faktor kunci dalam aksi mutilasi yang sistematis. Setelah memastikan TAS tewas, pelaku memindahkan tubuh korban ke kamar mandi dan memulai proses pemotongan yang berlangsung hingga dini hari. Pengalaman bertahun-tahun memotong daging hewan ternak memungkinkan AM melakukan mutilasi dengan tingkat presisi yang mengerikan.
Untuk menghilangkan jejak, AM memilih jalur Pacet-Batu sebagai lokasi pembuangan. Pelaku berjalan kaki sambil membawa kantong plastik berisi potongan tubuh, berhenti setiap 50-100 meter untuk membuang bagian-bagian tubuh di semak-semak dan parit. Strategi ini dimaksudkan untuk menyulitkan proses identifikasi dan penyidikan.
Namun, rencana licik tersebut terbongkar ketika warga setempat menemukan potongan tubuh pada pagi hari 1 September 2025. Laporan mengalir ke pos polisi terdekat. Tim identifikasi segera dikerahkan. Dalam 48 jam, jaringan penyelidikan meluas ke seluruh jalur Pacet dengan bantuan anjing pelacak dan teknologi forensik terdepan.
Pengejaran berlangsung dramatis. Melalui analisis CCTV dan kesaksian warga kos, polisi berhasil melacak keberadaan AM yang berusaha kabur ke luar kota. Penangkapan dilakukan di sebuah warung makan pinggir jalan, sekitar 15 kilometer dari lokasi kos. Pelaku tidak melawan dan langsung mengaku atas perbuatannya.
"Tersangka kooperatif selama proses pemeriksaan. Dia mengakui seluruh perbuatannya dan menunjukkan lokasi-lokasi pembuangan potongan tubuh," tutur Dedy.
Dalam perkembangan hukum, AM dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang mengancam hukuman mati atau seumur hidup, alternatif Pasal 338 tentang tindak pidana pembunuhan biasa. Jaksa penuntut umum menilai unsur perencanaan terbukti dari cara pelaku memilih lokasi pembuangan yang terpisah-pisah.
Sementara itu, proses identifikasi forensik masih berlanjut. Tim ahli DNA Laboratorium Forensik Mabes Polri bekerja keras memastikan seluruh potongan tubuh benar-benar milik korban TAS. "Kami mengambil sampel DNA dari keluarga korban untuk memastikan identitas. Proses ini membutuhkan waktu 2-3 minggu," jelas Dr. Andi Masyitha, kepala tim forensik.
Keluarga korban yang berasal dari Mojokerto mengaku terpukul berat. Ayah TAS, seorang pedagang kecil, mengatakan putrinya adalah anak yang patuh dan bercita-cita menjadi guru. "Saya tidak pernah menyangka hubungan anak saya berakhir seragam," ucap sang ayah dengan suara bergetar.