kriminal

Selang 15 Cm Tertinggal dalam Tubuh, Pasien RSUD Batang Malah Divonis HIV Selama 7 Bulan

Senin, 29 September 2025 | 18:57 WIB
Mistono divonis HIV pasca operasi RSUD Batang. Ternyata selang 15 cm tertinggal di tubuhnya. Tujuh bulan menderita sia-sia

Sulawesitoday - Mistono (59) tak pernah menyangka. Operasi batu ginjal berujung mimpi buruk. Pria asal Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang ini justru mendapat vonis HIV setelah operasi di RSUD Kalisari pada November 2024. Padahal, yang sebenarnya bersarang di tubuhnya bukanlah virus mematikan itu. Melainkan selang medis sepanjang 15 sentimeter yang terlupakan dalam saluran kemihnya.

Kasus ini membuka lembaran kelam dugaan malpraktik. Selama tujuh bulan, Mistono hidup dalam penderitaan ganda. Fisiknya sakit. Mentalnya tercabik. Bahkan keluarganya sempat berpaling.

  • Operasi yang Berakhir Kelam

Awalnya, segalanya tampak berjalan baik. Mistono menjalani operasi pengangkatan batu saluran kemih. Perawatan delapan hari di rumah sakit dijalaninya dengan penuh harap. Namun pulang ke rumah, harapan itu sirna.

Rasa sakit justru datang menggerogoti. "Setelah dioperasi saya merasa sakit," ungkap Mistono saat ditemui wartawan di kediamannya, Jumat 26 September 2025. Suaranya terdengar lelah. "Pulang delapan hari, satu minggu sakit lagi."

Keluhan tak kunjung reda. Mistono kembali masuk rumah sakit. Lalu keluar lagi. Begitu seterusnya dalam lingkaran penderitaan yang melelahkan.

Yang lebih mengejutkan datang kemudian. "Saat saya kontrol, perawatnya bilang saya kena HIV," kenangnya.

Vonis itu seperti petir di siang bolong. Bagaimana mungkin? Mistono tak pernah merasa berisiko. Namun hasil tes yang disampaikan pihak rumah sakit seolah tak bisa dibantah.

  • Mengapa Vonis HIV Bisa Keliru?

Pertanyaan ini menggantung di benak keluarga Mistono. Selama tujuh bulan, pria berusia 59 tahun itu terpaksa mengonsumsi obat antiretroviral. Tubuhnya tak kunjung membaik. Justru semakin lemah dan letih.

Belakangan diketahui, vonis itu keliru total. Hasil laboratorium dari tempat lain menunjukkan Mistono non-reaktif HIV. Artinya, ia tak pernah terinfeksi virus tersebut sejak awal.

Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Jawabannya mengagetkan ketika keluarga memutuskan membawa Mistono ke RS Siti Khodijah, Pekalongan. Di sana, pemeriksaan rontgen dan USG dilakukan. Hasilnya mencengangkan.

"Dokter bilang, 'Pak ini ada selang di dalam,'" jelas Mistono menirukan ucapan dokter yang menanganinya. Benda asing itu tertinggal selama berbulan-bulan. Menjadi sumber infeksi dan penderitaan berkepanjangan.

  • Tujuh Bulan Dikucilkan Keluarga

Dampak vonis keliru itu tak hanya menyerang fisik. Mental Mistono pun hancur. Stigma HIV menempel kuat di tengah masyarakat pedesaan. Apalagi, sang istri mulai curiga.

"Iya, namanya istri pasti curiga," tutur Mistono dengan nada lirih. Matanya berkaca-kaca. "Saya sampai dikucilkan, dicurigai bermain dengan wanita lain."

Rumah tangga yang tadinya harmonis berubah tegang. Mistono merasakan dinginnya jarak yang tercipta. Bukan karena perbuatannya. Melainkan karena kesalahan diagnosis yang fatal.

Halaman:

Tags

Terkini