Kecurigaan itu baru sirna setelah hasil lab dari Pekalongan menunjukkan fakta sebenarnya. Mistono negatif HIV. Namun tujuh bulan telah berlalu. Tujuh bulan kehidupan yang terampas sia-sia.
-
Bagaimana Selang Bisa Tertinggal?
Ini pertanyaan krusial yang belum terjawab. Dalam prosedur medis, setiap alat yang digunakan harus dihitung sebelum dan sesudah operasi. Protokol ini mencegah tertinggalnya benda asing di dalam tubuh pasien.
Namun entah bagaimana, selang sepanjang 15 sentimeter lolos dari perhitungan. Atau mungkin memang tak pernah dihitung dengan cermat? Kita belum tahu pasti.
Yang jelas, kelalaian ini membawa konsekuensi mengerikan. Mistono terus merasakan sakit. Infeksi terjadi. Dan yang paling tragis, ia mendapat vonis penyakit yang tak pernah dideritanya.
Setelah operasi pengangkatan selang di RS Siti Khodijah, kondisi Mistono berangsur pulih. "Alhamdulillah setelah selang diambil saya sehat, normal, kembali seperti semula," ucapnya dengan wajah lega.
Kini ia bisa kembali bekerja sebagai petani. Tanpa keluhan berarti. Seolah tujuh bulan penderitaan itu hanya mimpi buruk yang akhirnya berlalu.
-
Keluarga Tuntut Tanggungjawab RSUD Kalisari
Yusro, putra Mistono, tak bisa menerima begitu saja. Sang ayah telah menderita terlalu lama. Bukan hanya secara fisik.
"Bapak saya selama tujuh bulan menderita," kata Yusro dengan nada tegas. "Bukan soal sakitnya saja, tapi juga dampak sosial yang dialami."
Keluarga kini berencana menuntut pertanggungjawaban RSUD Kalisari Batang. Mereka ingin kejelasan. Bagaimana bisa terjadi kesalahan berlapis seperti ini?
Pertama, selang tertinggal dalam tubuh. Kedua, diagnosis HIV yang keliru. Ketiga, penderitaan berkepanjangan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
"Kami akan tempuh jalur hukum jika perlu," tegas Yusro. Keluarga telah berkonsultasi dengan beberapa pihak terkait langkah yang akan diambil.
-
Rumah Sakit Masih Bungkam
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD Kalisari Batang belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi wartawan ke bagian humas rumah sakit belum membuahkan hasil.
Keheningan ini justru menambah kecurigaan publik. Apakah rumah sakit sedang melakukan investigasi internal? Ataukah mereka masih menyusun strategi komunikasi krisis?
Yang pasti, diam bukanlah pilihan terbaik dalam situasi seperti ini. Masyarakat berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga korban menuntut jawaban. Dan pasien lain yang mungkin pernah atau akan berobat di sana pantas mendapat kepastian soal standar pelayanan.
-
Pelajaran Berharga dari Tragedi Mistono
Mistono sendiri berharap pengalamannya menjadi pembelajaran. "Saya cuma ingin keadilan," katanya dengan suara mantap. "Kalau memang salah, ya harus bertanggung jawab."