Ia tak ingin ada orang lain yang mengalami nasib serupa. Tujuh bulan adalah waktu yang terlalu lama untuk menderita karena kelalaian orang lain.
"Jangan sampai ada orang lain ngalami kayak saya," tegasnya. Matanya menatap jauh, seolah melihat masa depan di mana sistem kesehatan bisa lebih baik.
Kasus ini mengingatkan kita semua. Kepercayaan pasien pada tenaga medis adalah hal yang sakral. Ketika kepercayaan itu dikhianati oleh kelalaian, dampaknya bukan sekadar fisik. Melainkan mental, sosial, dan bahkan eksistensi kemanusiaan seseorang.
RSUD Kalisari Batang kini berada di bawah sorotan. Publik menunggu klarifikasi. Keluarga Mistono menunggu keadilan. Dan pasien-pasien lain menunggu jaminan bahwa hal serupa tak akan terulang.
Di tengah hiruk-pikuk kemajuan teknologi medis, kasus Mistono menjadi pengingat pahit: kadang yang paling berbahaya bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan kelalaian dalam penanganannya. Dan yang paling menyakitkan bukanlah luka fisik, melainkan stigma sosial yang lahir dari diagnosis yang keliru.
Keadilan bagi Mistono adalah keadilan bagi kita semua. Karena siapa pun bisa menjadi pasien. Dan setiap pasien berhak mendapat pelayanan yang aman, akurat, dan bermartabat.