"Yang harusnya untuk rakyat, justru dinikmati konglomerat," begitu esensi yang Amran sampaikan. Ironi yang sudah berlangsung lama.
Pembenahan sistem menjadi keniscayaan. Tidak bisa ditunda lagi. Amran menegaskan pemerintah harus berpihak tegas. Bukan pada korporasi raksasa. Tapi pada petani dan penggilingan kecil yang selama ini tersingkir.
-
Mengapa Baru Sekarang Dibongkar?
Pertanyaan ini pasti muncul di benak banyak orang. Kenapa praktik lama ini baru terungkap sekarang? Amran tidak memberikan jawaban eksplisit.
Tapi konteks politiknya jelas. Ada kehendak baru dari pemerintahan saat ini. Keberanian untuk mengganggu status quo. Meskipun risiko politiknya besar.
"Mungkin baru saatnya hari ini," kata Amran. Kalimat itu menyimpan banyak makna. Ada waktu yang tepat untuk setiap pembongkaran. Dan waktu itu adalah sekarang.
Petani selama ini jadi korban. Konsumen juga dirugikan. Hanya segelintir pemain besar yang panen untung. Dari hulu sampai hilir, mereka kontrol semuanya.
-
Apa Langkah Selanjutnya?
Amran menegaskan pembenahan menyeluruh diperlukan. Sistem pangan nasional harus dirombak. Tidak bisa setengah-setengah.
Kelompok kecil harus diberi ruang. Akses modal dipermudah. Regulasi diperketat untuk mencegah monopoli. Dan yang penting: penegakan hukum konsisten.
Pembongkaran "Serakahnomic" baru babak pertama. Masih banyak lapisan yang perlu dikupas. Dari distribusi, penetapan harga, hingga tata niaga.
Yang jelas, narasi ini bukan sekadar wacana. Amran membawa data konkret. Angka 59 persen patahan itu nyata. Disparitas harga GKP juga faktual. Ini bukan teori konspirasi.
Baca Juga: Mahfud MD Tegaskan Putusan MK Berlaku Seketika: Polisi Aktif Harus Tinggalkan Jabatan Sipil