• Selasa, 21 Juli 2026

Rakyat Pesanggaran Bergerak: Gunung Dikeruk, Kami yang Menanggung Sengsara

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Jumat, 14 November 2025 | 08:15 WIB
Puluhan warga GRSTP demo tolak tambang PT BSI di Pesanggaran. Tuntut tinjau ulang izin eksploitasi Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi
Puluhan warga GRSTP demo tolak tambang PT BSI di Pesanggaran. Tuntut tinjau ulang izin eksploitasi Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi

Sulawesitoday - Puluhan warga turun ke jalan. Mereka bergerak kompak. Gerakan Rakyat Selamatkan Tumpang Pitu (GRSTP) menggelar aksi protes di lapangan Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Rabu (12/11/2025). Target mereka: aktivitas pertambangan emas PT Bumi Suksesindo (BSI) di kawasan Gunung Tumpang Pitu.

Spanduk raksasa terpasang. Tulisannya menohok: "Kalian Keruk Gunung, Kami yang Tertimbun Derita! Tumpangpitu Menangis, Rakyat Bangkit." Pesan keras itu berdiri tegak. Di sampingnya, bak truk. Sound system siap menggema. Suara rakyat siap melawan.

Bukan sekadar teriakan kosong. Demonstrasi ini lahir dari luka. Luka yang menggores kehidupan warga Pesanggaran bertahun-tahun. Mereka menyaksikan gunung mereka terkoyak. Hutan menghilang. Mata air mengering perlahan. Ancaman longsor mengintai setiap musim hujan.

  • Mengapa Warga Begitu Berang Pada PT BSI?

Jawabannya ada di tanah. Ada di air. Ada di udara yang mereka hirup setiap hari. Aktivitas eksploitasi tambang emas PT BSI telah mengubah lanskap Gunung Tumpang Pitu. Yang dulunya hijau kini bolong. Yang dulunya sumber kehidupan kini jadi ancaman.

Data lapangan mencatat kerusakan nyata. Hutan lindung terkikis habis. Sumber air bersih mulai langka. Warga harus berjalan lebih jauh. Mereka harus menggali lebih dalam. Demi setetes air bersih. Demi kehidupan yang layak.

Belum lagi soal bencana. Kawasan selatan Banyuwangi kini rawan longsor. Struktur tanah berubah drastis. Aktivitas pengerukan melemahkan fondasi gunung. Ketika hujan datang, ketakutan pun tiba. Tanah longsor bisa saja menelan kampung mereka.

  • Apa Tuntutan Konkrit Para Demonstran?

Raden Teguh Firmansyah tampil ke depan. Ketua Aliansi Setia Nawaksara Indonesia ini memberi orasi. Suaranya lantang membelah udara siang. "Kami berdiri bukan lawan pembangunan," tegas Raden di tengah kerumunan. "Kami menyelamatkan masa depan Banyuwangi."

Pernyataannya jelas dan tegas. Gunung Tumpang Pitu bukan sekadar tanah. Bukan cuma tumpukan batuan. Gunung itu kehidupan ribuan warga. Ketika gunung rusak permanen, rakyat yang menanggung akibatnya. Derita itu nyata. Derita itu terasa setiap hari.

Tuntutan utama mereka sederhana. Pemerintah harus bertindak sekarang. Tinjau ulang izin tambang PT BSI. Evaluasi dampak lingkungan secara menyeluruh. Dengarkan suara rakyat kecil. Mereka yang terlupakan dalam hiruk pikuk pembangunan ekonomi.

"Pembangunan ekonomi itu penting," sambung Raden dengan nada lebih rendah. "Tapi bukan dengan kurbankan lingkungan. Bukan dengan kurbankan hak hidup masyarakat setempat."

  • Benarkah Konflik Ini Hanya Soal Lingkungan?

Lebih dalam dari itu. Ini soal keadilan. Soal siapa yang menikmati hasil. Siapa yang menanggung beban. PT BSI mengeruk emas dari perut bumi. Keuntungannya mengalir ke pihak tertentu. Sementara warga lokal? Mereka dapat derita. Dapat air keruh. Dapat ancaman bencana setiap saat.

Ironi itu membakar. Mereka yang tinggal di atas tanah. Mereka yang mewarisi gunung dari nenek moyang. Justru mereka yang paling menderita. Pembangunan kok berat sebelah? Kemakmuran kok timpang?

Poster dan spanduk yang mereka bawa bukan sekadar alat demo. Itu simbol perlawanan. Simbol harapan yang hampir padam. Simbol bahwa mereka tak akan diam. Tak akan pasrah melihat kampung halaman rusak total.

  • Bagaimana Nasib Tumpang Pitu ke Depan?

Pertanyaan itu menggantung di udara. Belum ada jawaban pasti. Yang jelas, rakyat Pesanggaran sudah bergerak. Mereka sudah bersuara keras. Tinggal menunggu: akankah pemerintah mendengar?

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini