Sulawesitoday - Tiga remaja di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, tewas akibat mengonsumsi minuman keras (miras) oplosan, sementara tiga lainnya dalam kondisi kritis. Kasus tragis ini kembali menyoroti bahaya miras oplosan yang kerap menelan korban jiwa, terutama di kalangan remaja. Pesta miras yang berakhir dengan kematian ini menjadi bagian dari tren mengkhawatirkan yang terus meningkat di berbagai daerah.
Kejadian memilukan ini terjadi pada Jumat malam (5/10/2024), di Kampung Wejim, Distrik Kepulauan Sembilan, Raja Ampat. Kapolres Raja Ampat, AKBP I Gusti Gede Raka Martayasa, menjelaskan bahwa keenam remaja tersebut awalnya mengonsumsi minuman keras jenis cap tikus. Setelah minuman itu habis, mereka berinisiatif mencuri cairan alkohol 96% dari Puskesmas Wejim. Alkohol murni yang diambil dari ruang apotek puskesmas itu kemudian dicampur dengan minuman berenergi.
Baca Juga: Nyawa Pengendara Terancam! Puluhan Lubang Besar Mengintai di Jalan Dewi Sartika Palu
“Mereka mencuri alkohol 96% di Puskesmas Wejim setelah merusak ventilasi dan pintu lemari. Alkohol ini kemudian mereka campur dengan minuman berenergi,” ungkap Gusti dalam keterangannya. Hasilnya, tiga remaja—YM, AM, dan MM—tewas dua hari setelah pesta itu berlangsung, sementara tiga lainnya dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Kasus ini menjadi salah satu contoh nyata dari risiko yang dihadapi para remaja ketika terjerumus dalam miras oplosan. Kombinasi alkohol murni dan minuman berenergi yang diminum korban bukan hanya mematikan, tetapi juga mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap distribusi alkohol di daerah tersebut. Fenomena miras oplosan, terutama di wilayah terpencil seperti Raja Ampat, seringkali terjadi karena kurangnya akses terhadap informasi dan edukasi mengenai bahaya konsumsi alkohol yang tidak terkontrol.
“Kami masih mendalami kasus ini, dan masyarakat diimbau untuk tidak lagi mengonsumsi miras yang membahayakan diri sendiri,” tegas AKBP Gusti.
Miras oplosan telah menjadi masalah besar di Indonesia, khususnya di kalangan remaja. Data menunjukkan bahwa konsumsi minuman keras ilegal kerap meningkat di daerah yang sulit dijangkau pengawasan. Banyaknya kasus kematian akibat miras oplosan tidak lepas dari ketidakpedulian terhadap efek jangka panjang serta kurangnya kontrol atas peredaran bahan-bahan yang digunakan untuk membuat campuran berbahaya tersebut.
Sayangnya, kasus miras oplosan yang mengakibatkan kematian remaja bukanlah yang pertama kali terjadi di Raja Ampat. Kejadian serupa pernah dilaporkan beberapa tahun lalu, meskipun saat itu jumlah korbannya tidak sebanyak kali ini. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pengawasan ketat terhadap penjualan alkohol di wilayah pedalaman dan perlunya kampanye edukasi yang lebih masif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya minuman keras, khususnya yang tidak jelas asal-usulnya.
Sebagai langkah antisipasi, penting bagi pihak terkait, termasuk sekolah dan komunitas lokal, untuk memberikan edukasi mengenai dampak buruk miras, terutama bagi generasi muda. Kesadaran akan bahaya miras oplosan harus ditanamkan sejak dini agar tidak ada lagi korban-korban berjatuhan di kemudian hari. Tren miras oplosan yang berbahaya ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada masa depan generasi muda di daerah-daerah terpencil.