Sulawesitoday - Fenomena kekerasan antarpelajar kembali mencuat di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kali ini, dua siswa SMP terlibat dalam duel fisik yang disebabkan oleh ejekan terhadap nama orang tua. Rekaman perkelahian tersebut menyebar cepat di media sosial, memicu berbagai tanggapan dari netizen yang prihatin terhadap kondisi mental dan moral para pelajar saat ini.
Kejadian ini berlangsung di kebun karet, hanya beberapa langkah dari sekolah kedua siswa itu. Video memperlihatkan dua siswa berseragam sekolah saling berhadapan, dikelilingi oleh teman-temannya yang justru menonton tanpa berusaha melerai. Perkelahian tersebut, seperti dijelaskan oleh Kasat Reskrim Polres Bulukumba AKP Aris Satrio, dipicu oleh ketersinggungan sederhana. "Masalahnya hanya karena salah satu dari mereka menyebut nama bapaknya yang lain," ujar Aris pada Kamis (10/10/2024). Meski terlihat sepele, konflik semacam ini seringkali menjadi pemicu kekerasan di kalangan remaja.
Duel yang terjadi pada Senin (7/10) itu telah ditangani pihak kepolisian dan para siswa yang terlibat beserta penonton dibawa ke Polsek Bulukumpa untuk dimediasi. "Kami amankan semuanya, termasuk yang menonton perkelahian itu. Sudah dipanggil orang tua dan gurunya, serta diselesaikan secara kekeluargaan karena mereka masih berstatus pelajar," tambah Aris. Meski kasus ini berakhir damai, tidak bisa dipungkiri bahwa kekerasan antarpelajar tetap menjadi persoalan serius yang butuh perhatian lebih.
Kekerasan seperti ini tidak hanya mengancam keselamatan siswa, tapi juga menunjukkan dampak buruk dari kurangnya kontrol dalam pergaulan sehari-hari dan pengaruh media sosial. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana peran media sosial dalam memicu tindakan kekerasan di kalangan remaja?
Media sosial seringkali menjadi tempat di mana kejadian seperti ini tersebar dan justru memberikan ruang bagi pelajar untuk mencari pengakuan dari teman-temannya. Ketika sebuah perkelahian diunggah, ia dengan cepat mendapatkan 'penonton' yang bahkan bisa mendukung tindakan tersebut secara tidak langsung. Sejumlah riset menunjukkan bahwa kebiasaan menonton dan membagikan konten kekerasan dapat membentuk pola pikir yang menerima kekerasan sebagai bentuk penyelesaian masalah.
Sebagai orang tua atau guru, ada baiknya kita meningkatkan pengawasan, bukan hanya di sekolah tapi juga di ruang digital tempat anak-anak kita sering menghabiskan waktu. "Kami sudah mengimbau sekolah agar lebih mengawasi siswa-siswanya, terutama yang terlibat dalam peristiwa ini," kata Aris. Harus ada kolaborasi kuat antara sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat untuk mencegah kejadian serupa terjadi lagi. Perkelahian mungkin bisa didamaikan, tetapi trauma psikologis dan dampak sosial yang ditimbulkannya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Fenomena kekerasan remaja yang terekam di media sosial ini memperlihatkan bahwa kita masih punya pekerjaan besar dalam membimbing anak-anak kita, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya mengendalikan apa yang mereka lakukan, tetapi setidaknya kita bisa memberikan arahan yang benar agar kejadian semacam ini tak terulang lagi.