Sulawesitoday - Kisah pilu kembali mencuat dari perairan Mamuju, Sulawesi Barat. Hernis, seorang pria lanjut usia berusia 69 tahun, nekat melompat dari atas Kapal Motor (KM) Laskar Pelangi ke laut yang gelap gulita. Insiden ini terjadi pada Selasa malam (8/10) sekitar pukul 22.09 WITA, di saat kapal masih berlayar menuju Pelabuhan Mamuju. Aksi dramatis ini diduga kuat dilatarbelakangi rasa sakit hati yang mendalam karena anaknya menolak menjemputnya di pelabuhan.
Berdasarkan rekaman CCTV, sejumlah penumpang di atas kapal tampak berada di luar dek, beberapa terlihat memandang ke arah laut, menyaksikan momen yang menegangkan. Tanpa peringatan, Hernis tiba-tiba berdiri dan melompat ke laut. Penumpang lain terkejut, tapi tidak sempat menghentikannya. "Kondisinya memang sudah gelap, mungkin itu juga yang bikin penumpang lain gak nyangka kalau dia bakalan nekat begitu," ujar seorang saksi mata yang tak ingin disebutkan namanya.
Baca Juga: Nelayan Syok, Temukan Kaki Korban Diving Hilang di Perut Hiu Timor Leste
Pihak berwenang mengindikasikan bahwa keputusan drastis ini dipicu oleh konflik keluarga. Hernis, yang selama ini mengandalkan anak-anaknya sebagai tumpuan hidup, merasa sakit hati dan kecewa saat anaknya menolak untuk menjemputnya di Pelabuhan Simboro, Mamuju. "Dari hasil interogasi beberapa saksi, diduga korban sengaja melompat atau bunuh diri karena perasaan sakit hati," jelas Kasi Humas Polresta Mamuju, Ipda Herman Basir, kepada wartawan, Rabu (9/10).
Hernis mungkin merasa ditinggalkan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Kekecewaan mendalam terhadap anaknya menimbulkan tekanan mental yang begitu kuat hingga mendorongnya melakukan tindakan ekstrem. Dalam keluarga, masalah kecil bisa berkembang menjadi sesuatu yang besar jika dibiarkan tanpa penyelesaian. Sayangnya, kali ini Hernis memilih jalan yang tragis.
Pencarian Hernis telah dimulai oleh Tim SAR gabungan sejak Rabu (9/10). Humas Kantor Basarnas Mamuju, Devis, menyebutkan bahwa tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban pada hari pertama pencarian. "Hasil pencarian di hari pertama nihil," ungkap Devis, sembari menegaskan bahwa pencarian akan dilanjutkan oleh Basarnas dan Satpolairud Polresta Mamuju di hari berikutnya. Namun, dalam kondisi perairan yang luas dan gelap, harapan mulai menipis.
Peristiwa ini juga menjadi peringatan bagi kita semua bahwa komunikasi dan perhatian terhadap orang tua adalah hal yang sangat penting. Meskipun anak mungkin memiliki alasan sendiri, terkadang kesalahpahaman kecil bisa mengarah pada keputusan-keputusan besar yang tak terduga. Keluarga harus menjadi tempat perlindungan, bukan sumber rasa sakit.
Kisah Hernis menjadi pengingat nyata tentang betapa rapuhnya perasaan manusia, khususnya mereka yang berada di usia lanjut. Setiap penolakan atau rasa diabaikan dapat memicu perasaan yang tak terkatakan, dan dalam kasus ini, sayangnya, hasilnya berakhir tragis.
Artikel Terkait
Telan Rp13,301 Miliar, Belanja BPJS Kesehatan Aparat Desa dari Rp1,783 Triliun Struktur Ranperda APBD 2025 Parigi Moutong
Eksplorasi Keindahan Terumbu Karang di D'MARANTALE, Tempat Snorkeling Terbaik Parigi Moutong
Rp16,131 Miliar Belanja BPJS Ketenagakerjaan Masuk Raperda APBD 2025: Prioritaskan Aparat Desa, Pekerja Rentan, dan Non-ASN
Detik-Detik Mencekam, Warga Berjuang Evakuasi Jasad Pria yang Diseruduk Sapi di Polman
Nelayan Syok, Temukan Kaki Korban Diving Hilang di Perut Hiu Timor Leste