Sulawesitoday - Tragedi memilukan terjadi di Balikpapan, Kalimantan Timur, ketika seorang balita berusia empat tahun, berinisial AP, tewas setelah terseret sejauh 600 meter oleh mobil yang dikendarai WS (22), seorang pria yang diduga terlibat dalam kasus curanmor. Peristiwa ini menyulut gelombang kemarahan publik, terutama setelah video detik-detik tabrakan tersebut viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, mobil Daihatsu Xenia putih bernomor polisi KT 1493 VF yang dikemudikan WS terlihat menabrak sepeda motor yang ditumpangi oleh ayah korban dan beberapa orang lainnya di Jalan Manunggal, Balikpapan. Usai tabrakan tersebut, WS justru tancap gas, seolah-olah mengabaikan korban yang masih berada di bawah kolong mobilnya. Ayah dari balita tersebut, dalam rekaman yang sangat menyayat hati, terlihat bersujud di jalan, meratapi kondisi anaknya yang tak berdaya.
Respons emosional keluarga korban sangat menyentuh hati banyak orang. Kematian AP yang begitu tragis, terutama dengan cara yang begitu brutal, membuat masyarakat sekitar dan netizen di seluruh Indonesia bersatu dalam duka dan amarah. Ayah AP bukan hanya kehilangan anaknya, tetapi harus menyaksikan langsung insiden mengerikan yang membuat putrinya terseret sejauh 600 meter. Ini bukan hanya sebuah kecelakaan tragis, tetapi sebuah kehilangan yang sulit dibayangkan. Banyak yang merasakan apa yang ia rasakan, dan hal ini memperkuat gelombang simpati terhadap keluarga korban.
"Kami hanya bisa berharap pelaku segera dihukum seberat-beratnya," kata seorang warga yang menyaksikan peristiwa tersebut. Warga setempat, yang dipenuhi emosi, langsung mengambil tindakan dengan mengejar pelaku setelah melihatnya melarikan diri. Pada akhirnya, WS berhasil dihentikan dan menjadi sasaran amuk massa yang tak terbendung.
Kemarahan masyarakat atas kejadian ini dapat dimengerti. Tidak hanya karena nyawa seorang balita yang tidak bersalah hilang dengan cara yang begitu kejam, tetapi juga karena perilaku ugal-ugalan pelaku yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap keselamatan orang lain. Lebih lanjut, kecurigaan bahwa WS terlibat dalam kasus pencurian kendaraan bermotor hanya memperburuk situasi. Sebuah insiden yang awalnya 'hanya' kecelakaan tragis, kini berkembang menjadi krisis kepercayaan publik terhadap keamanan jalanan dan penegakan hukum.
Kompol Ropiyani, Kasat Lantas Polresta Balikpapan, menjelaskan bahwa saat ini pihak kepolisian masih terus mendalami kasus ini, termasuk memeriksa WS serta saksi-saksi di lokasi kejadian. "Kami sedang mengumpulkan data dan barang bukti," jelasnya. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, hal ini tidak cukup. Mereka menuntut agar keadilan ditegakkan dengan cepat dan pelaku segera mendapat hukuman yang setimpal.
Insiden ini mengundang perhatian luas, tidak hanya di Balikpapan, tetapi juga secara nasional. Reaksi masyarakat di media sosial menunjukkan bagaimana kemarahan publik bisa berkembang dengan cepat, terutama ketika insiden yang begitu brutal dan tak adil ini terekspos.
Orang-orang mempertanyakan bagaimana mungkin seseorang bisa begitu tak bertanggung jawab dan kabur dari tabrakan, meninggalkan korban yang masih hidup di bawah mobil.
Kematian AP menjadi pengingat bagi banyak orang akan pentingnya keselamatan di jalan, dan bagaimana tindakan sembrono di jalan bisa merenggut nyawa yang begitu tak berdosa.
Kini, masyarakat menunggu tindakan nyata dari pihak berwenang—bukan hanya untuk menghukum WS, tetapi juga untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang kembali.