Sulawesitoday - Rabu pagi, 8 Mei 2025. Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong mendadak sesak oleh suara-suara yang biasanya hanya terdengar di ruang kelas: gurat penasaran, obrolan renyah, dan tawa lepas. Tapi kali ini bukan anak-anak yang jadi pusat perhatian, melainkan teknologi.
Sekitar 200 guru dan kepala sekolah PAUD dari eks Kecamatan Parigi, Siniu, hingga Ampibabo datang berkumpul. Agendanya: pendampingan penginputan Implementasi Kurikulum Merdeka.
Namanya mungkin panjang dan terdengar birokratis, tapi intinya satu—para guru ini sedang berusaha mengejar kurikulum yang seharusnya sudah lebih dulu mereka peluk.
“Masih banyak yang belum benar-benar menerapkan,” ujar Darman, pejabat dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Sulawesi Tengah.
Ucapannya pelan, tapi nadanya seperti ingin mengatakan: ini bukan sekadar soal silabus, ini soal kesiapan mental menghadapi perubahan.
Darman bukan sekadar datang bawa materi. Ia membawa aplikasi berbasis Artificial Intelligence—sesuatu yang dulu hanya dibicarakan di seminar, kini dibuka di layar laptop peserta.
Dari merancang silabus sampai menyusun rencana pembelajaran, semua bisa “dibantu mesin.” Tidak menggantikan guru, katanya, hanya mempercepat yang sudah lambat.
Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Parimo, Dahniar, mengakui tak semua kecamatan diundang.
“Kami fokus dulu di tiga kecamatan. Biar lebih dalam diskusinya,” katanya, sambil menyusun berkas. Efisiensi? Atau karena tahu bahwa mengejar semua sekaligus bisa seperti menyuapi anak yang belum lapar.
Yang menarik, bukan hanya soal teknologi yang makin canggih. Tapi juga soal realita: Kurikulum Merdeka sudah diluncurkan bertahun-tahun lalu, namun di lapangan, sebagian sekolah baru membuka halaman pertamanya.
Sementara AI sudah siap lompat, guru-guru masih sibuk mengikat tali sepatu.
Tentu tidak adil menyalahkan guru. Sistem kita kadang lambat memberi bekal, cepat menuntut hasil.
Baca Juga: Tanah Negara Tapi Tak Bertuan, Parigi Moutong Baru Selesaikan 313 dari 1.754 Sertifikat
Maka acara ini, sesederhana apapun, adalah ruang kecil yang penting—untuk belajar lagi, menyusun ulang, dan mungkin, berdamai dengan percepatan zaman.
Artikel Terkait
Ubi Tomundo Menuju IG, Tim KI Kemenkum Sulteng Identifikasi 7 Potensi Produk Unggulan
Gubernur Anwar Hafid Larang Wisuda PAUD–SD, Pilih Kegiatan Kreatif untuk Kurangi Beban Orang Tua
Satu Jamaah Haji Kloter 20 Jawa Timur Meninggal Saat Penerbangan Menuju Madinah
Batu, Busur, dan Manusia Silver: Penertiban Satpol PP Makassar Berujung Chaos
Tanah Negara Tapi Tak Bertuan, Parigi Moutong Baru Selesaikan 313 dari 1.754 Sertifikat