Empat hari penuh kegiatan dirancang sistematis. Mengoptimalkan potensi setiap peserta melalui pendekatan kreatif-edukatif. Metodologi pembelajaran abad 21 menjadi acuan utama.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong menargetkan peningkatan signifikan. Minat baca, tulis, dan literasi digital harus mengalami akselerasi. Kreativitas digital generation menjadi fokus pengembangan.
Kolaborasi antar sekolah, guru, dan masyarakat diharapkan menguat. Ekosistem pendidikan berkualitas memerlukan sinergi multi-stakeholder. Tidak dapat berjalan dalam isolasi institusional.
Festival Literasi Parigi Moutong 2025 menjadi tonggak bersejarah. Generasi Emas Anak Parigi Moutong bukan sekadar slogan. Melainkan visi konkret yang sedang diwujudkan.
Komitmen pemerintah daerah menciptakan anak-anak cerdas, berakhlak mulia, dan bangga menjadi anak Indonesia semakin nyata. Melalui literasi, masa depan gemilang terbentang di depan mata.
*Momentum ini akan dikenang sebagai titik balik transformasi pendidikan Parigi Moutong. Ketika literasi bukan lagi mimpi, namun realitas yang dapat dirasakan setiap anak.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Bongkar Akar Masalah Pengangguran: Rp425 Triliun Terkunci di BI
Artikel Terkait
Misteri Kerangka dalam Pohon Aren Terbongkar, Warga Sergai Ngaku Anaknya Hilang 2 Tahun
Dalam Rapat Komisi XI, Menkeu Purbaya Dikepung Kritik Utang Jumbo, TKD Dipangkas Rp214 Triliun Bikin Daerah Gerah
TNI Dalami Dugaan Keterlibatan Prajurit dalam Kasus Pembunuhan Kacab BRI Cempaka Putih
Festival Literasi Parigi Moutong 2025 Resmi Dibuka, Libatkan 23 Kecamatan dalam Kompetisi Tujuh Kebiasaan Baik
Menkeu Purbaya Bongkar Akar Masalah Pengangguran: Rp425 Triliun Terkunci di BI