• Kamis, 4 Juni 2026

PMI dan Dinsos Parimo Salurkan Bantuan Darurat, Korban Kebakaran Asrama Butuh Rehabilitasi Segera

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Selasa, 18 November 2025 | 15:14 WIB
PMI dan Dinsos Parimo Salurkan Bantuan Darurat, Korban Kebakaran Asrama Butuh Rehabilitasi Segera
PMI dan Dinsos Parimo Salurkan Bantuan Darurat, Korban Kebakaran Asrama Butuh Rehabilitasi Segera

Sulawesitoday - Asap masih terasa menggantung. Reruntuhan mengingatkan akan tragedi. Namun secepat api membakar, bantuan pun datang. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Parigi Moutong bersama Dinas Sosial bergerak cepat. Senin, 17 November 2025 menjadi saksi. Ketua PMI Parimo, Hestiwati Nanga memimpin langsung. Lokasi: Asrama Pemerintah Parigi Moutong. Alamat persisnya di Jalan Yojokodi, Kota Palu.

Kebakaran melanda asrama mahasiswa itu. Puluhan jiwa terdampak langsung. Kebutuhan mendesak menumpuk seketika. Sandang, pangan, obat-obatan—semua hilang dalam sekejap. Hestiwati tak menunda waktu. Koordinasi dengan Dinsos berjalan mulus.

"Kita dari PMI bekerjasama dengan Dinas Sosial melihat langsung serta menyalurkan kebutuhan sandang, pangan dan obat-obatan," ujar Hestiwati usai menyerahkan bantuan. Nadanya tegas namun penuh empati. Matanya menyapu kondisi para korban. Wajah-wajah lelah dan kehilangan.

Angka-angka berbicara lebih keras. Sebanyak 23 paket sandang disalurkan. Ditambah 21 paket hygiene kit. Lalu 21 paket sembako. Hand sanitizer dan masker juga tak ketinggalan. Semua dikemas rapi sesuai kebutuhan darurat. Standar prosedur kemanusiaan terpenuhi.

Hestiwati mengaku prihatin melihat dampaknya. "Kami memberikan obat seperti penurun panas untuk anak-anak, alat mandi, sabun cuci pakaian, dan lain sebagainya," jelasnya dengan rinci. Setiap item diperhitungkan matang. Tak ada yang terlewat begitu saja.

  • Apa Dampak Kebakaran Bagi Penghuni Asrama?

Lebih dari sekadar kerugian material. Trauma psikologis mengintai para korban. Mahasiswa kehilangan tempat tinggal. Keluarga yang ikut menghuni resah. Anak-anak menangis ketakutan saat api menjilat. Bayangan tragedi itu sulit hilang.

Melihat kondisi tersebut, PMI tak hanya memberi bantuan fisik. Program trauma healing dirancang khusus. Hestiwati mengajak para ibu, mahasiswa, dan warga sekitar untuk ikut. "Tetap kuat, jangan berputus asa. Semua Manusia pasti mendapatkan cobaan. Intinya selalu berikhtiar agar Allah memberikan yang lebih baik lagi," pesannya dengan tulus.

Edukasi juga diberikan bersamaan. Fokusnya penggunaan obat-obatan yang benar. Banyak korban masih syok. Beberapa mengalami luka bakar ringan. Ada juga yang terkena asap berlebihan. Pertolongan pertama menjadi krusial.

Seorang mahasiswa semester tiga menangis lega. "Saya kira tidak ada yang peduli. Ternyata bantuan datang cepat," ungkapnya tersendat. Barang-barangnya habis terbakar. Laptop untuk kuliah ludes. Buku catatan hancur menjadi abu. Namun bantuan PMI sedikit menghibur.

  • Bagaimana Harapan Korban Ke Depan?

Bantuan darurat memang membantu sementara. Tapi solusi jangka panjang dibutuhkan. Masyarakat terdampak punya harapan besar. Mereka ingin pemerintah segera melakukan rehabilitasi. Bahkan kalau perlu pembangunan ulang asrama.

"Kami butuh tempat tinggal permanen lagi. Aktivitas kuliah terganggu total," keluh salah satu penghuni. Ia bukan sendirian. Puluhan mahasiswa lain merasakan hal sama. Mereka terpaksa mengungsi ke tempat saudara. Ada yang menumpang di kos teman. Kondisi tidak ideal untuk belajar.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong belum memberi pernyataan resmi. Namun sumber dari Dinsos mengisyaratkan ada rencana. Survei lokasi akan dilakukan segera. Anggaran sedang diusahakan melalui APBD Perubahan. Prosesnya memang tidak bisa instan.

Hestiwati sendiri optimis pemerintah akan bertindak cepat. "Kita sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Semoga ada solusi terbaik untuk saudara-saudara kita," katanya penuh harap. PMI berjanji tetap memantau kondisi korban. Bantuan lanjutan siap disalurkan bila diperlukan.

Sementara itu, warga sekitar juga turut membantu. Beberapa ibu rumah tangga menyumbang makanan. Ada yang memberikan pakaian layak pakai. Solidaritas sosial menguat di tengah bencana. Gotong royong menjadi kekuatan utama.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini