Sulawesitoday - Stunting bukan cuma urusan puskesmas. Kali ini, Pemerintah Daerah Parigi Moutong membuktikannya lewat pendekatan tak biasa: membagikan bibit pertanian sebagai amunisi perang melawan stunting. Senin, 24 November 2025, ratusan paket bibit benih dan alat pertanian diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Abdul Sahid di Kantor Desa Toraranga, Kecamatan Siniu.
Bukan sekadar bantuan sosial biasa. Program ini dirancang strategis. Targetnya jelas: memutus mata rantai stunting dari hulu—ketahanan pangan keluarga. Abdul Sahid turun langsung ke desa. Ia menyerahkan bibit tomat, cabai, hingga sayuran. Ada juga alat pertanian pendukung. Semua dikemas dalam satu paket komprehensif.
"Pendekatan ini berbeda," ujar Abdul Sahid di lokasi penyerahan. Ia menegaskan bahwa stunting tak melulu soal pelayanan kesehatan. "Akses terhadap pangan bergizi sama pentingnya," tambahnya. Pernyataan ini mengubah paradigma penanggulangan stunting konvensional yang selama ini fokus pada posyandu dan imunisasi.
Mengapa Bibit Pertanian Bisa Jadi Solusi Stunting?
Pertanyaan ini muncul spontan. Logikanya sederhana sebenarnya. Ibu hamil butuh nutrisi memadai. Anak-anak masa pertumbuhan perlu asupan gizi seimbang. Namun kenyataannya? Tidak semua keluarga mampu beli sayuran segar setiap hari. Harga pasar sering tak terjangkau. Akses ke warung jauh. Solusinya? Tanam sendiri di pekarangan.
Konsep inilah yang diadopsi Pemda Parigi Moutong. Dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah, ibu rumah tangga bisa menanam sendiri kebutuhan sayur sehari-hari. Tomat untuk tambahan vitamin. Cabai untuk bumbu dapur. Sayuran hijau untuk serat. Semua tersedia di halaman belakang rumah. Segar, organik, dan tanpa biaya tambahan.
Data lapangan menunjukkan realitas mengejutkan. Banyak keluarga di Kecamatan Siniu punya lahan pekarangan luas. Namun tidak dimanfaatkan optimal. Ada yang kosong begitu saja. Ada yang cuma ditumbuhi rumput liar. Padahal potensinya luar biasa. Dengan bantuan bibit dan alat pertanian ini, lahan tidur itu bisa produktif.
Target Utama: Ibu Hamil dan Anak-Anak
Program ini punya sasaran spesifik. Prioritas utama adalah ibu hamil. Mengapa? Karena kualitas gizi ibu hamil menentukan kondisi janin. Kekurangan nutrisi saat kehamilan bisa memicu stunting pada bayi. "Pencegahan harus dimulai sejak dalam kandungan," tegas Abdul Sahid.
Anak-anak usia pertumbuhan jadi target kedua. Periode 1000 hari pertama kehidupan krusial. Masa ini menentukan tumbuh kembang anak. Asupan gizi yang cukup wajib terpenuhi. Sayuran segar dari pekarangan sendiri jadi solusi praktis. Tidak perlu keluar biaya besar. Keluarga bisa panen sendiri.
Abdul Sahid menyampaikan pesan tegas kepada penerima bantuan. "Manfaatkan sebaik-baiknya," ucapnya. Ia berharap bibit yang diserahkan benar-benar ditanam. Dirawat dengan baik. Dipanen untuk konsumsi keluarga. Bukan malah dibiarkan mati atau dijual. "Ini investasi untuk generasi mendatang," lanjut Wakabup.
Pemanfaatan Lahan Pekarangan: Revolusi Kecil yang Berdampak Besar
Di tengah acara penyerahan, Abdul Sahid menyampaikan visi besarnya. "Kita perlu memanfaatkan lingkungan sekitar," katanya dengan nada serius. Menurutnya, setiap keluarga punya potensi. Pekarangan rumah yang selama ini terabaikan bisa jadi sumber pangan. Tidak perlu lahan luas. Bahkan pot-pot kecil pun cukup untuk menanam cabai atau tomat.
Gerakan ini bukan yang pertama. Namun kali ini punya fokus spesifik: penurunan stunting. "Mari kita jadikan ini gerakan bersama," ajak Abdul Sahid. Ia berharap program ini menginspirasi desa-desa lain. Efek dominonya bisa luar biasa. Jika setiap keluarga menanam sayuran sendiri, ketersediaan pangan bergizi meningkat drastis.
Artikel Terkait
Tumpang Tindih Data Penerima Bantuan Listrik, Parigi Moutong Benahi Mekanisme Pendataan
Digitalisasi Layanan Sipil Parigi Moutong: 96 Persen Warga Terekam, Ribuan Masih Gelap Dokumen
Menhan Sjafrie Ngamuk di Bandara Tanpa Bea Cukai: Tidak Boleh Ada Negara Dalam Negara
Teknologi Pertanian Modern Jadi Solusi Hadapi Iklim Ekstrem dan Persaingan Pasar di Parigi Moutong
Bupati Parimo Instruksikan Pendataan Aset Pemda-Desa untuk 170 Gerai Koperasi Merah Putih Tahap Pertama