Sulawesitoday - Di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei kemarin, satu suara terdengar menembus riuh barisan seragam dan lagu kebangsaan: “Ke depan, tidak ada lagi anak-anak kita yang tidak menikmati pendidikan.”
Pernyataan itu datang dari Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong, Sunarti.
Di hadapan awak media usai upacara di Parigi, ia tak sekadar beretorika—komitmen itu, katanya, sedang terus dikerjakan, bukan sekadar dideklarasikan.
Tak banyak yang tahu, Parigi Moutong sedang memungut kembali anak-anak yang tercecer dari bangku sekolah.
Sunarti menyebutkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, sektor pendidikan di Parimo—begitu daerah ini akrab disebut—telah menjadi penopang utama dalam menekan kemiskinan ekstrem dan mendorong naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
“Alhamdulillah, pendidikan di Parimo sudah berkontribusi secara nyata. Bukan hanya angka, tapi juga harapan,” katanya.
Salah satu ujung tombak gerakan ini ada di Bidang PAUD dan Dikmas. Lewat jalur formal dan non-formal, mereka rajin mengetuk pintu-pintu warga, membujuk anak-anak yang dulu berhenti di tengah jalan agar kembali menapaki bangku pelajaran.
Bahkan kini, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) telah berdiri hampir di setiap kecamatan—semacam sekolah alternatif yang jadi oase kedua bagi anak-anak yang sempat menyerah.
Dan hasilnya tak main-main. Dari sekitar 60.000 anak yang dulu tercatat putus sekolah, kini tinggal 10.000 yang belum kembali. “Yang tersisa itu, rata-rata sudah di luar usia sekolah,” terang Sunarti.
Baca Juga: Pelajar Terkena Busur Panah, Polisi Kejar Tiga Pelaku Misterius
Namun, pekerjaan belum selesai. Ia tahu medan ini masih terjal. “Kita terus perluas akses dan layanan. Karena di Parimo, pendidikan bukan lagi pilihan, tapi jalan keluar,” pungkasnya.
Bagi Sunarti dan timnya, pendidikan adalah pintu. Dan di Parimo, mereka sedang memastikan pintu itu tidak lagi terkunci bagi siapa pun.