• Selasa, 21 Juli 2026

Ongkos Haji Turun Rp4 Juta Belum Cukup, Prabowo Ingin Murah dari Negeri Jiran

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Minggu, 4 Mei 2025 | 16:42 WIB
Prabowo ingin biaya haji RI lebih murah dari Malaysia. Diplomasi, efisiensi, dan kampung di Haram jadi andalan. Tapi cukupkah?
Prabowo ingin biaya haji RI lebih murah dari Malaysia. Diplomasi, efisiensi, dan kampung di Haram jadi andalan. Tapi cukupkah?

 

Sulawesitoday - Seolah belum cukup sibuk dengan urusan dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto melirik Tanah Suci. Di Terminal Khusus Haji dan Umrah yang baru saja diresmikan di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (4/5), ia menjatuhkan satu kalimat yang menggema lebih panjang dari sambutan protokoler:

“Saya belum puas. Kalau bisa, kita lebih murah dari Malaysia.”

Kata-kata itu bukan sekadar ambisi. Itu pesan politik. Tapi juga sekaligus PR yang berat.

Sebab faktanya, meski pemerintah sudah berhasil memangkas biaya haji hingga Rp4 juta untuk musim ini—turun jadi Rp89,41 juta per jamaah—harga itu masih terasa mahal, terutama jika dibanding negeri tetangga yang lihai memainkan jurus subsidi. Malaysia, lewat Tabung Hajinya, membagi bantuan dengan sistem kelas ekonomi: kelompok B40 hanya perlu merogoh sekitar Rp54 jutaan. Yang tajir, ya silakan bayar penuh.

Indonesia? Masih di kisaran Rp55 juta—dan itu pun dengan nilai manfaat yang dikurangi. Alias, dicicil oleh jamaah yang belum berangkat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Kepala BP Haji Mochamad Irfan Yusuf, yang duduk tak jauh dari Presiden, tentu mengangguk. Karena ya, siapa yang tak mau “lebih murah dari Malaysia”? Tapi dalam dunia nyata, ongkos itu tak hanya soal niat. Ia soal logistik, diplomasi, dan kadang soal ego antar-lembaga.

Prabowo menyinggung rencana pembangunan “kampung Indonesia” di sekitar Masjidil Haram—semacam komplek hunian jamaah, agar tak perlu rebutan hotel jauh hari. Jika itu benar-benar terwujud, bisa jadi game changer. Tapi ya itu tadi: “jika”.

Diplomasi dengan Arab Saudi bukan seperti memesan hotel bintang lima lewat aplikasi. Ia memerlukan kesabaran, lobi panjang, dan niat politik dua arah.

Sementara waktu terus berjalan. Kuota Indonesia tahun ini 221.000 orang. Sebanyak itu pula yang berharap ongkosnya tak makin memberatkan.

Baca Juga: Heboh Pedagang Es Krim Motor vs Pengelola Pantai Lolak, Gerobak Jualan Tumpah Berhamburan

Maka pertanyaannya: mampukah ambisi Prabowo itu dijadikan kenyataan, bukan sekadar headline?

Atau kita hanya akan terbang dengan terminal megah, tapi tetap menanggung tiket yang menyengat?

 

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini