pemerintah

Hapus Blank Spot, Pemprov Sulteng dan Pemda Parigi Moutong Pasang Satelit di Sekolah Pelosok

Kamis, 2 April 2026 | 13:43 WIB
Pemprov Sulteng percepat digitalisasi pendidikan di daerah terpencil lewat program Berani Cerdas dan bantuan internet satelit bagi sekolah pelosok.

Sulawesitoday - Dunia sudah lari kencang dengan digitalisasi. Tapi di pelosok Sulawesi Tengah, masih ada guru yang harus mendaki bukit demi mencari sinyal. Masih ada siswa yang hanya bisa membayangkan apa itu internet.

Ketimpangan itulah yang ingin dipangkas. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah kini sedang tancap gas. Targetnya jelas: transformasi digital pendidikan harus sampai ke beranda sekolah paling terpencil.

Komitmen ini tidak hanya di atas kertas. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Firmanza DP, membedahnya dengan lugas dalam Forum Koordinasi (FORKOM) Bappeda se-Sulteng di Parigi Moutong, Rabu kemarin.

Ini adalah bagian dari napas program "Berani Cerdas".

"Kami mendorong pengembangan digitalisasi pendidikan, termasuk menyediakan akses internet bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil," ujar Firmanza di hadapan peserta forum.

Tahun lalu, gerilya digital ini sudah menyentuh 13 sekolah. Hasilnya positif. Maka, tahun 2026 ini, program serupa dilanjutkan. Ada tambahan 10 sekolah lagi yang jadi sasaran. Memang belum mencakup semua, tapi setidaknya keran akses mulai dibuka.

Bagi Firmanza, teknologi adalah kunci pemerataan kualitas. Tanpa internet, sekolah di gunung akan selamanya kalah start dengan sekolah di kota.

"Kalau kita ingin kualitas pendidikan merata, maka akses terhadap teknologi juga harus merata. Tidak boleh ada sekolah yang tertinggal hanya karena tidak memiliki jaringan internet," tegasnya.

Urusan digital ini bukan cuma soal belajar-mengajar. Urusan perut dan pangkat guru juga mau didigitalkan. Ke depan, pengurusan kenaikan pangkat hingga gaji berkala tak perlu lagi pakai tumpukan kertas. Cukup lewat aplikasi. Lebih cepat, lebih transparan.

"Semua akan kita dorong berbasis digital agar lebih cepat dan akuntabel," jelas Firmanza.

Gayung pun bersambut. Di tingkat daerah, Kabupaten Parigi Moutong melakukan langkah konkret yang lebih "sat-set". Mereka tak mau hanya menunggu. Sebanyak 15 unit perangkat internet berbasis satelit—Starlink—sudah disalurkan ke sekolah-sekolah terpencil.

Ibrahim, Kepala Bidang Manajemen SD Disdikbud Parigi Moutong, menjelaskan skemanya. Ada yang didanai pusat, ada yang disokong APBD.

"Sekolah yang belum menerima bantuan dari kementerian kami prioritaskan melalui anggaran dinas," ungkap Ibrahim.

Langkah intervensi ini krusial. Sebab, menunggu kabel optik masuk ke hutan butuh waktu lama. Solusi satelit adalah jalan pintas yang masuk akal agar anak-anak di pedalaman bisa segera "berkenalan" dengan dunia luar.

Halaman:

Tags

Terkini