Sulawesitoday - Parigi Moutong (Parimo) tidak mau lagi sekadar jadi penonton. Kabupaten di Sulawesi Tengah ini sedang punya mimpi besar: berasnya harus naik kelas. Bukan lagi sekadar kenyang, tapi harus berkelas. Premium.
Targetnya jelas. Bukan main-main. PT Food Station Tjipinang Jaya. Itu BUMD milik Jakarta. Raksasa pangan di ibu kota. Kerja sama sudah di depan mata. Maka, urusan kualitas tidak boleh ditawar lagi.
Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Parimo, Dadan Priatna Jaya, sadar betul akan hal itu. Baginya, angka produksi yang melimpah hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah mutu.
"Walaupun produksi kita tinggi, kalau kualitasnya kurang, maka daya saing juga akan rendah," tegas Dadan, Senin kemarin.
Masalah klasiknya selalu sama: cuaca. Musim hujan datang, petani pusing. Gabah jadi basah. Kalau sudah begitu, butir beras banyak yang patah. Mimpi jadi beras premium pun sirna. Masuk kategori kelas bawah saja sudah syukur.
Tapi teknologi tidak boleh kalah oleh cuaca. Parimo mulai melirik alat pengering gabah skala industri. Teknologinya harus tinggi. Pengeringan tidak boleh lagi hanya mengandalkan nasib di bawah sinar matahari.
"Dengan teknologi pengering yang baik, kadar air bisa dikendalikan sehingga kualitas beras tetap terjaga," kata Dadan.
Itulah kunci masuk pasar premium. Tanpa itu, beras Parimo hanya akan berputar-putar di pasar lokal. Padahal, potensinya raksasa.
Lihatlah hamparan sawahnya. Saat ini, rata-rata indeks pertanaman (IP) masih di angka 200. Artinya, baru dua kali tanam setahun. Dadan ingin itu ditingkatkan menjadi IP 300. Tiga kali tanam.
Wilayahnya sudah siap. Parigi Selatan, Torue, dan Balinggi punya potensi itu. Lahan yang tadinya hanya IP 200 terus didorong untuk naik level.
Strateginya ganda: kuantitas digenjot lewat perluasan dan frekuensi tanam, kualitas dikawal lewat teknologi pascapanen.
Jika semua berjalan mulus, beras dari kaki gunung Parigi Moutong tidak hanya akan memenuhi piring warga Sulteng. Tapi juga akan tersaji cantik di supermarket-supermarket Jakarta.
Parimo sudah siap bersaing. Jalannya sudah benar: memuliakan mutu, memanfaatkan teknologi.
Parigi Moutong Jadi Magnet Perencanaan: Menepis Ego, Merajut Sinergi di Forkkom XXIII
Artikel Terkait
Saldo BRImo Jadi Rp0? Jangan Panik, Ini Penjelasan Resmi BRI Soal Gangguan Sistem
Pesona Pesisir Majene di Mata Juan Reza, Dari Stadion Prasamya Menatap Laut Biru
Bukan Sekadar Riset, Sinergi Kemenkumham Sulteng Lindungi Intelektual
Parigi Moutong Jadi Magnet Perencanaan: Menepis Ego, Merajut Sinergi di Forkkom XXIII
Sepakan Bola di HUT Ke-24 Parigi Moutong: Dari SD Sampai SMA, Semua Harus Menendang