Sulawesitoday - Rutan Kelas IIA Palu resmi memindahkan 37 warga binaan ke Lapas Palu, langkah penting untuk meredakan masalah klasik yang kerap dihadapi lembaga pemasyarakatan: over kapasitas. Dengan jumlah penghuni yang mencapai sekitar 500 orang, sementara rutan hanya dirancang untuk menampung 280 warga binaan, pemindahan ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Kepala Rutan Palu, Yansen, menggarisbawahi bahwa tujuan utama pemindahan ini bukan hanya soal ruang, tetapi juga untuk meningkatkan efektivitas pembinaan dan menjaga stabilitas keamanan di dalam rutan.
"Pemindahan ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan atau over kapasitas, dan sebagai langkah deteksi dini menjaga keamanan," ungkap Yansen dalam keterangannya, Rabu.
Pengamanan Ketat dan Prosedur Sebelum Pemindahan
Sebelum 37 warga binaan dipindahkan, sejumlah prosedur ketat diberlakukan. Mereka menjalani tes kesehatan, penggeledahan fisik, hingga pemeriksaan barang bawaan guna memastikan tidak ada barang terlarang yang terbawa. Bahkan, setiap warga binaan yang dipindahkan diborgol demi menghindari risiko selama perjalanan.
Baca Juga: Tiga Hari Hilang di Laut Teluk Tomini, Pencarian Nelayan Asal Parigi Moutong Berpacu dengan Waktu
"Kami pastikan seluruh proses berjalan dengan aman, dan setiap langkah kami awasi," kata Yansen, menekankan pentingnya protokol ketat dalam pemindahan ini.
Pihak rutan juga memastikan berkas administrasi setiap warga binaan lengkap sebelum mereka masuk ke transportasi pemasyarakatan (Transpas). Hal ini sejalan dengan komitmen Rutan Palu untuk menjaga keteraturan dan mencegah potensi pelanggaran selama pemindahan berlangsung.
Meningkatkan Kualitas Pembinaan
Tidak hanya berfokus pada ruang fisik, pemindahan ini diharapkan berdampak positif terhadap kualitas pembinaan.
"Ini hal yang lumrah, pemindahan warga binaan ke unit teknis lain adalah bagian dari upaya memastikan pembinaan berjalan efektif," tambah Yansen.