Sulawesitoday - Kecerdasan buatan (AI) tampaknya semakin lihai bermain dua peran. Di satu sisi, ia mempermudah kerja jurnalis: menelusuri data dalam hitungan detik, merangkai kalimat tanpa typo, dan menyarikan fakta dari tumpukan dokumen.
Tapi di sisi lain, AI juga menyimpan potensi gelap: menjadi mata-mata digital, penyaring diam-diam, bahkan penjiplak yang tak tahu etika.
Yardin Hasan, mantan Ketua AJI, tak menutup-nutupi kegelisahannya soal itu.
Dalam diskusi Hari Kebebasan Pers Sedunia yang digelar AJI Kota Palu di Hotel Khas, Sabtu lalu, ia menyebut: “AI ini bisa jadi alat pengawasan. Bahkan sensor. Dan itu sangat mungkin terjadi, apalagi di pemerintahan seperti sekarang.”
Ia tak sedang menggertak. Yardin merujuk pada sebuah kejadian yang, bagi banyak jurnalis, terasa getir: larangan terhadap wartawan yang hendak meliput pengarahan Prabowo di acara Danantara.
“Padahal yang dibahas soal publik. Tapi jurnalis malah disuruh tunggu di luar,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung di Maleo Room itu juga menghadirkan dua suara lain: Muhammad Iqbal dari AMSI Sulteng, dan Dr. Stepanus Bo’do dari Universitas Tadulako.
Masing-masing membawa cerita berbeda, tapi benang merahnya sama—AI sedang mengubah ekosistem media, dan tak semuanya menggembirakan.
Iqbal—yang di kalangan media dikenal sebagai Ballo—mengingatkan soal gelombang PHK di ruang redaksi.
“Banyak yang digantikan tools. Karyawan dikurangi, AI yang ambil alih,” katanya. Ia menggambarkan kondisi industri seperti berada di ujung jurang, di depan musuh, “ya kita harus fight.”
Sementara Stepanus memilih jalur lebih reflektif.
“AI memang bisa analisis data, tapi jurnalis itu pencerita. Storytelling yang kuat itu manusiawi. AI tak bisa gantikan,” kata dosen Komunikasi itu. Tapi ia juga tak naif: AI tetap bisa dipakai untuk memanipulasi. “Makanya perlu regulasi, dan yang paling penting: etikanya.”
Diskusi itu bukan seremoni belaka. Lebih dari 40 peserta hadir—mahasiswa, jurnalis muda, dan pegiat hak asasi.
Baca Juga: Gempa M6.0 Guncang Pohuwato Malam Ini, Getaran Terdeteksi Hingga Manado dan Berau
Artikel Terkait
Tak Bisa Terbang, Tak Dapat Refund: Hasri Jack Ngamuk di Bandara Usai Batik Air Batalkan Penerbangan
Honorer RSUD Tombulilato Terkatung-katung, Gaji Empat Bulan dan Jasa Delapan Bulan Belum Dibayar
Dugaan Kades Timbulon Nistakan Mushaf Al Quran, Ketika Simbol Suci Dijadikan Mainan
Jurnalis Dilapor Polisi Gara-Gara Share Berita Sendiri, Tiga Organisasi Pers Lawan Kriminalisasi Hendly
Gempa M6.0 Guncang Pohuwato Malam Ini, Getaran Terdeteksi Hingga Manado dan Berau