Sulawesitoday - Dalam dunia yang katanya menjunjung tinggi adab, seorang kepala desa di ujung utara Sulawesi malah memilih jalan terjal: diduga meletakkan mushaf Al-Quran di lantai. Bukan sekadar meletakkan—menurut saksi, ada gestur yang seperti hendak menginjak.
Tentu, tak ada yang benar-benar tahu isi hati sang kades. Tapi tubuh berbicara, dan simbol punya nyawa. Maka meletakkan mushaf ke lantai bukan cuma perkara posisi benda. Itu sinyal. Dan umat membaca sinyal itu dengan luka.
Peristiwa ini terjadi di Desa Timbulon, Kecamatan Paleleh Barat, Kabupaten Buol. Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar, seperti api di ladang kering. Satu video pendek berpindah dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya. Sekian detik saja cukup membuat amarah menumpuk.
Di tengah badai itu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Buol bersuara. Keras. Tegas.
“Apa yang dilakukan oknum kepala desa itu tidak bisa ditoleransi. Ini bukan hanya soal pribadi, tapi menyangkut kehormatan kitab suci dan marwah umat,” kata Santi J. Paninggo, ketua cabang PMII, Sabtu (3/5/2025).
Bagi Santi dan barangkali banyak yang sependapat, mushaf bukan hanya buku. Ia simbol, ia cahaya, ia pegangan hidup. Dan memperlakukannya seperti benda biasa—apalagi dengan gestur merendahkan—sama saja menampar keimanan. Maka tidak heran jika reaksi datang deras.
“Sebagai kepala desa, ia seharusnya jadi contoh. Tapi yang kami lihat justru sebaliknya: sikap sembrono yang bisa menyulut konflik horizontal,” lanjut Santi.
PMII Buol kini mendesak aparat hukum bertindak cepat. Tak ada ruang untuk “nanti dulu.” Kasus ini, kata mereka, harus diproses dengan profesional. Kalau dibiarkan mengendap, jangan salahkan kalau jalanan jadi forum protes.
Santi bahkan menyebut, mereka siap turun—dengan cara yang konstitusional. Tapi jangan berharap mereka diam, apalagi melupakan.
“Kami pastikan ini tidak akan berhenti di headline semata,” tuturnya.
Baca Juga: Honorer RSUD Tombulilato Terkatung-katung, Gaji Empat Bulan dan Jasa Delapan Bulan Belum Dibayar
Sementara itu, Kades Timbulon belum bicara ke publik. Mungkin sedang menimbang kata, atau menunggu suasana reda. Tapi di luar sana, suasana justru menghangat. Karena di negeri ini, soal kitab suci bukan bahan main. Ia lebih dari sekadar teks—ia harga diri.
Dan dalam politik lokal, harga diri bisa berubah jadi bara.
Artikel Terkait
Sulbar Catat Inflasi Tahunan 3,36 Persen April 2025, Sentuh Peringkat Empat Nasional
157 NIP PPPK Guru Sulteng Disetujui, Parigi Moutong Terbanyak Lulus Tanpa Usulan
Rp300 Ribu per Bulan, Pemerintah Siapkan Tunjangan untuk 310 Ribu Guru Honorer Mulai Juli
Tak Bisa Terbang, Tak Dapat Refund: Hasri Jack Ngamuk di Bandara Usai Batik Air Batalkan Penerbangan
Honorer RSUD Tombulilato Terkatung-katung, Gaji Empat Bulan dan Jasa Delapan Bulan Belum Dibayar