• Kamis, 4 Juni 2026

Dugaan Kades Timbulon Nistakan Mushaf Al Quran, Ketika Simbol Suci Dijadikan Mainan

.
Aswadin, Sulawesi Today
- Sabtu, 3 Mei 2025 | 16:48 WIB
Kepala Desa Timbulon diduga melecehkan Al‑Qur’an. PMII geram, publik menuntut. Simbol disakiti, keyakinan pun retak.
Kepala Desa Timbulon diduga melecehkan Al‑Qur’an. PMII geram, publik menuntut. Simbol disakiti, keyakinan pun retak.

Sulawesitoday - Dalam dunia yang katanya menjunjung tinggi adab, seorang kepala desa di ujung utara Sulawesi malah memilih jalan terjal: diduga meletakkan mushaf Al-Quran di lantai. Bukan sekadar meletakkan—menurut saksi, ada gestur yang seperti hendak menginjak.

Tentu, tak ada yang benar-benar tahu isi hati sang kades. Tapi tubuh berbicara, dan simbol punya nyawa. Maka meletakkan mushaf ke lantai bukan cuma perkara posisi benda. Itu sinyal. Dan umat membaca sinyal itu dengan luka.

Peristiwa ini terjadi di Desa Timbulon, Kecamatan Paleleh Barat, Kabupaten Buol. Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar, seperti api di ladang kering. Satu video pendek berpindah dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya. Sekian detik saja cukup membuat amarah menumpuk.

Di tengah badai itu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Buol bersuara. Keras. Tegas.

“Apa yang dilakukan oknum kepala desa itu tidak bisa ditoleransi. Ini bukan hanya soal pribadi, tapi menyangkut kehormatan kitab suci dan marwah umat,” kata Santi J. Paninggo, ketua cabang PMII, Sabtu (3/5/2025).

Bagi Santi dan barangkali banyak yang sependapat, mushaf bukan hanya buku. Ia simbol, ia cahaya, ia pegangan hidup. Dan memperlakukannya seperti benda biasa—apalagi dengan gestur merendahkan—sama saja menampar keimanan. Maka tidak heran jika reaksi datang deras.

“Sebagai kepala desa, ia seharusnya jadi contoh. Tapi yang kami lihat justru sebaliknya: sikap sembrono yang bisa menyulut konflik horizontal,” lanjut Santi.

PMII Buol kini mendesak aparat hukum bertindak cepat. Tak ada ruang untuk “nanti dulu.” Kasus ini, kata mereka, harus diproses dengan profesional. Kalau dibiarkan mengendap, jangan salahkan kalau jalanan jadi forum protes.

Santi bahkan menyebut, mereka siap turun—dengan cara yang konstitusional. Tapi jangan berharap mereka diam, apalagi melupakan.

“Kami pastikan ini tidak akan berhenti di headline semata,” tuturnya.

Baca Juga: Honorer RSUD Tombulilato Terkatung-katung, Gaji Empat Bulan dan Jasa Delapan Bulan Belum Dibayar

Sementara itu, Kades Timbulon belum bicara ke publik. Mungkin sedang menimbang kata, atau menunggu suasana reda. Tapi di luar sana, suasana justru menghangat. Karena di negeri ini, soal kitab suci bukan bahan main. Ia lebih dari sekadar teks—ia harga diri.

Dan dalam politik lokal, harga diri bisa berubah jadi bara.

Editor: Aswadin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini