Sulawesitoday - tertegun membaca laporan dari Reuters pagi ini. Isinya bikin dahi berkerut, tapi sekaligus kagum. Soal apa? Apalagi kalau bukan Brain-Computer Interface (BCI). Alias chip yang ditanam di otak.
Dulu, kita pikir ini cuma ada di film fiksi ilmiah Hollywood. Ternyata, kenyataannya justru sedang terjadi di Beijing dan Sichuan.
Tiongkok rupanya tidak mau main-main. Mereka sedang "lari maraton" dengan kecepatan sprinternya Usain Bolt. Targetnya ngeri-ngeri sedap: tiga sampai lima tahun ke depan, teknologi ini sudah harus meledak di pasar. Dipakai masyarakat luas.
Bukan sekadar hobi atau gaya-gayaan. Ini urusan persaingan harga diri bangsa.
Strategi "Keroyokan" Pemerintah
Hebatnya Tiongkok itu di sini: Fokus.
Pemerintah pusat sana sudah ketok palu. BCI masuk dalam daftar "anak emas" di rencana pembangunan lima tahunan terbaru. Derajatnya disamakan dengan komputer kuantum, AI, sampai fusi nuklir.
Artinya apa? Anggarannya ada. Dukungan politiknya kuat. Birokrasinya dipangkas.
Direktur Sichuan Institute of Brain Science, Yao Dezhong, bicaranya optimistis sekali. Dia bilang perkembangannya sangat pesat. "Memang tidak berubah dalam semalam," katanya. Tapi kalau sudah urusan tiga tahun lagi? Produk praktisnya sudah harus nangkring di rumah sakit.
Bayangkan. Pasien lumpuh atau mereka yang diamputasi, nanti bisa menggerakkan tangan robotik hanya dengan kekuatan pikiran. Bukan sulap, bukan sihir. Ini murni urusan kabel dan sinyal saraf.
Menantang Musk di Kandang Sendiri
Selama ini kita hanya kenal Elon Musk dengan Neuralink-nya. Musk memang jago. Dia punya robot bedah yang bisa tanam elektroda secepat kilat. Tapi Tiongkok punya senjata lain: Ekosistem.
Yao Dezhong pede sekali. Dia bilang, apa yang dilakukan Musk, ilmuwan Tiongkok juga bisa. Bahkan, mereka punya keunggulan yang tidak dimiliki Amerika:
Pasien yang Melimpah: Untuk riset medis, jumlah subjek sangat krusial.