• Senin, 20 Juli 2026

Monopoli Meta Digoyang, WhatsApp Izinkan Chatbot Pesaing Masuk Mulai Tahun Ini

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 7 Maret 2026 | 21:46 WIB
​Gempuran regulasi Uni Eropa paksa Meta buka akses WhatsApp untuk AI pesaing. Langkah antisipasi monopoli atau sekadar strategi bisnis berbayar?
​Gempuran regulasi Uni Eropa paksa Meta buka akses WhatsApp untuk AI pesaing. Langkah antisipasi monopoli atau sekadar strategi bisnis berbayar?

Sulawesitoday - Mark Zuckerberg akhirnya angkat tangan. Tidak kuat. Bukan karena kalah teknologi, tapi karena digebuk aturan.

Raksasa itu menyerah pada Uni Eropa (UE). Mulai tahun ini, pintu WhatsApp yang selama ini tertutup rapat, harus dibuka. Lebar-lebar. Pesaing kecerdasan buatan (AI) boleh masuk ke sana.

Selama ini, WhatsApp itu seperti kerajaan sendiri. Hanya ada satu asisten di sana: Meta AI. Milik Zuckerberg sendiri. Sejak 15 Januari 2026 lalu, ia berkuasa mutlak. Chatbot lain? Dilarang masuk. Dimatikan.

Tapi regulator di Eropa tidak mau tahu. Mereka mencium bau amis monopoli.

Komisi Eropa melotot. Bulan lalu mereka mengancam: kalau Meta tidak berubah, akan ada tindakan tegas. Rupanya, Eropa belajar dari Italia. Desember 2025 lalu, pengawas persaingan di Italia sudah lebih dulu "menjewer" Meta.

Meta sempat membela diri. Alibi mereka klasik: kalau semua AI masuk, sistem kami bisa jebol. Terlalu berat. Beban sistemnya luar biasa. Lagi pula, kata Meta, kan masih ada toko aplikasi lain. Ada mesin pencari. Ada email. Kenapa harus di WhatsApp?

Ternyata argumen itu mentah.

Zuckerberg tahu risikonya besar. Maka, ia pun melunak. "Selama 12 bulan ke depan, kami akan mendukung chatbot AI serbaguna menggunakan API WhatsApp Business di Eropa," ujar juru bicara Meta, seperti dikutip Reuters.

Tapi, ada "tapi"-nya.

Boleh masuk, asal bayar. Ada fee-nya. Inilah yang bikin masalah baru.

Marvin von Hagen, CEO The Interaction Company—perusahaan di balik AI Poke.com yang menggugat Meta—langsung teriak. Baginya, Meta ini cuma main sandiwara. "Kelihatannya patuh, padahal kebalikannya," kata Marvin.

Istilah dia: prohibitive pricing. Harganya selangit. Dibuat sedemikian rupa supaya kompetitor tetap tidak bisa bernapas. Sama saja dengan melarang, tapi lewat jalur halus. Jalur dompet.

Marvin pun mengejek solusi di Italia. Katanya, itu bukan solusi. Itu cuma mengganti satu cara curang dengan cara curang lainnya.

Perseteruan ini bukan hanya di Eropa. Di Brasil, ceritanya mirip. Sempat gontok-gontokan di pengadilan, akhirnya Meta juga harus membuka pintu di sana.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini