Bagi mereka, pesan dari "polisi" atau "pengadilan" adalah titah yang harus dipatuhi. Rasa takut dianggap melanggar hukum membuat jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran jernih. Padahal, penegak hukum yang asli tidak pernah bekerja seperti itu.
"Petugas tidak akan pernah menelepon, mengirim pesan, apalagi meminta uang untuk menyelesaikan perkara hukum," tegas Polisi Cocchi dari Hampden County.
Literasi Adalah Perisai
Memang, banyak anak muda yang sudah paham. Sudah "kenyang" melihat modus penipuan. Tapi penipu juga terus belajar. Mereka makin canggih menyamar menjadi lembaga yang sah. Tampilannya makin mirip aslinya.
Maka, hanya ada satu cara untuk selamat: Jangan Panik.
Jika menerima pesan yang isinya menakut-nakuti, meminta data pribadi, atau menyuruh klik link yang tidak jelas asalnya, langkah terbaik hanya satu: Hapus!
Jangan dibaca berulang-ulang. Jangan dipikirkan. Langsung buang ke tempat sampah digital. Melaporkannya ke pihak berwajib tentu lebih mulia, agar tidak ada lagi orang tua yang kehilangan tabungan hari tuanya hanya karena satu klik yang salah.
Zaman memang sudah berubah. Dulu perampok bawa celurit, sekarang cukup bawa link.
3 Cara Membuat Link Phising di PC & Android, Wajib Tahu Biar Nggak Jadi Korban
Artikel Terkait
Lelah Cicilan? Ini Panduan Lengkap Cara Hapus Shopee PayLater Secara Aman dan Permanen
TikTok Buka Suara Soal Aturan Baru RI: Blokir Akun Medsos Mulai 28 Maret 2026
Panik Chat WhatsApp Hilang? Ini 3 Cara Pulihkan Pesan Lewat Google Drive dan Lokal
Cara Baru Orang Tua Sadap WhatsApp Anak 10-12 Tahun dengan Fitur Akun Terkelola
iPhone 17 Air Kemahalan? Cek 5 Ponsel Android 'Copycat' yang Desainnya Gak Kalah Tipis