Sulawesitoday - Pernahkah ponsel Anda berdering? Sekilas saja. Hanya satu kali miscall. Lalu mati.
Nomornya asing. Kode negaranya aneh. Bukan +62. Bisa jadi dari Kongo (+24), atau mungkin India (+91). Nafsu kita biasanya sama: penasaran. Siapa tahu itu relasi bisnis. Siapa tahu itu saudara yang sedang merantau di negeri orang.
Saran saya: Tahan jempol Anda. Jangan sekali-kali menelepon balik.
Di dunia teknologi, ini ada namanya. Keren namanya: Wangiri. Itu istilah dari Jepang. Munculnya sudah lama, sekitar tahun 2000-an. Secara harfiah, wangiri berarti "sekali dering lalu putus".
Modusnya sederhana tapi mematikan kantong. Si penipu menggunakan mesin otomatis untuk memanggil ribuan nomor secara acak di seluruh dunia. Mereka hanya membiarkan ponsel Anda berdering sekali. Tujuannya cuma satu: memancing rasa penasaran Anda agar menelepon balik.
Jebakan Pulsa dan Layanan Premium
Kenapa mereka mau repot-repot begitu? Jawabannya: Uang.
Begitu Anda menekan tombol "panggil balik", saat itulah arloji biaya mulai berputar kencang. Karena itu nomor luar negeri, Anda langsung dikenakan tarif internasional yang mahal. Tapi itu belum seberapa.
Seringkali, nomor yang Anda hubungi adalah nomor layanan premium. Mirip-mirip kuis SMS berbayar zaman dulu, tapi ini versi telepon. Setiap detik Anda tersambung, pulsa Anda disedot dengan kecepatan tinggi. Sebagian besar uang itu akan masuk ke kantong si penipu yang bekerja sama dengan penyedia layanan di negara tersebut.
Di Indonesia, kasus ini bukan barang baru. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat ledakan kasus ini pernah sangat ramai di tahun 2016. Waktu itu, banyak orang Indonesia diteror panggilan dari kode area +77. Banyak yang tekor. Pulsa ratusan ribu hilang dalam hitungan menit.
Bukan Sekadar Pulsa, Tapi Data
Apakah kerugiannya hanya soal pulsa? Ternyata tidak.
Dunia siber sekarang lebih kejam dari itu. Ketika Anda menelepon balik, Anda sebenarnya sedang memberikan konfirmasi kepada komplotan penjahat bahwa:
- Nomor telepon Anda aktif.
- Anda adalah orang yang responsif terhadap nomor asing.
Data ini mahal harganya. Nomor Anda bisa masuk dalam "daftar emas" calon korban penipuan lainnya. Mulai dari penipuan paket, tawaran pinjol ilegal, hingga phising yang lebih canggih. Nomor Anda akan diperjualbelikan di pasar gelap organisasi kejahatan siber.