Sulawesitoday - Gempa berkekuatan M6,0 mengguncang wilayah Bolaang Mongondow Timur, Sulut, mengakibatkan kerusakan signifikan pada hunian dan fasilitas ibadah.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, tercatat sebanyak 11 rumah warga dan satu gereja mengalami kerusakan parah.
Insiden ini terjadi di wilayah yang paling terdampak, yakni Desa Jiko Balanga, Kecamatan Naungan, yang letaknya cukup dekat dengan titik pusat gempa.
Kepala Pelaksana BPBD Bolaang Mongondow Timur, James Tine, menyatakan bahwa “data yang masuk ada 11 rumah warga dan 1 tempat ibadah yang rusak.”
Keterangan tersebut diperoleh dalam proses konfirmasi yang dilakukan pada Kamis (27/2/2025), sehari setelah terjadinya getaran gempa pada Rabu (26/2/2025). James Tine menjelaskan bahwa kerusakan paling dominan terjadi di bagian dinding rumah.
“Kami mendapati beberapa rumah yang dindingnya runtuh, terutama yang tidak menggunakan batako, melainkan dicor langsung. Akibatnya, tembok di ruang dapur dan kamar langsung ambruk,” ujarnya.
Menurut keterangan tersebut, penyebab kerusakan yang cukup parah di Desa Jiko Balanga diduga terkait dengan metode pembangunan yang tidak memenuhi standar kekuatan struktural.
Hal ini menjadi perhatian utama BPBD, karena bangunan yang rapuh tersebut sangat rentan terhadap dampak getaran gempa. Sejauh ini, tim lapangan BPBD masih terus turun untuk melakukan identifikasi menyeluruh terhadap kondisi rumah dan bangunan lain yang terdampak.
Dalam situasi darurat ini, warga yang rumahnya mengalami kerusakan telah mengambil langkah untuk mengungsi ke rumah saudara atau kerabat terdekat.
“Dari pantauan kami, sebagian besar warga yang terdampak sudah mengungsi ke rumah keluarga, mengingat kondisi rumah mereka sudah tidak layak huni,” tambah James Tine.
Pemerintah daerah melalui BPBD berjanji akan segera menindaklanjuti temuan awal ini dengan melakukan pendataan yang lebih komprehensif serta memberikan bantuan kepada warga yang terkena imbas.
Baca Juga: Operasi Pengawasan di Gorontalo: 48 Tikus, 21 Kelelawar, 3 Musang Ilegal Disita
Upaya koordinasi antar instansi pun terus diperkuat guna mempercepat penanganan pasca bencana. Langkah-langkah evakuasi dan bantuan darurat diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak dan mencegah kerugian yang lebih besar di masa mendatang.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya penerapan standar bangunan yang aman dan penanggulangan bencana yang responsif, guna meminimalisir dampak serupa pada masa depan.
Artikel Terkait
Blunder PTTUN Amrullah Dorong KPU Gelar PSU Pilkada Parigi Moutong
Skandal Pengadaan Laptop di Poso, Harga Markup Fantastis Senilai Rp13,47 Miliar Picu Penyelidikan
Prosesi Adat Sou Raja, Awal Era Lima Tahun Kepemimpinan Gubernur dan Wagub Sulteng
Aksi Nekat Pelaku Pencurian Kambing Sekat Sandera dan Aniaya di Petobo Palu
Operasi Pengawasan di Gorontalo: 48 Tikus, 21 Kelelawar, 3 Musang Ilegal Disita