Sulawesitoday - Yerusalem diguncang, bukan lagi oleh kabar angin, melainkan hantaman nyata. Sistem pertahanan udara andalan Israel, Iron Dome, yang selama ini diagungkan sebagai perisai tak tertembus, kedodoran.
Serangan balasan masif dari Iran pada Jumat malam (13/6) lalu, yang diklaim sebagai 'Operasi Janji Sejati III', membuktikan bahwa kemanjuran teknologi teranyar pun bisa luluh lantak di hadapan strategi "banjiran".
Langit Israel gelap gulita, bukan karena malam, tapi karena awan rudal dan drone. Lebih dari 150 rudal balistik dan 100 drone kamikaze ditembakkan serentak. Sebuah badai api yang bukan lagi sekadar unjuk gigi, melainkan sebuah ujian keras bagi sistem pertahanan berlapis negeri Zionis itu.
Hasilnya? Kementerian Pertahanan Israel mesti mengakui: tak semua proyektil berhasil dicegat. Beberapa rudal justru mampu menyasar wilayah sipil, merenggut satu nyawa dan melukai setidaknya 35 lainnya. Sebuah tamparan nyata di wajah kebanggaan pertahanan Israel.
Para ahli militer serentak menunjuk pada satu fenomena: “saturation attack”. Iron Dome, yang mulanya dirancang untuk menangkis roket-roket sederhana dari Gaza, kini dipaksa berhadapan dengan lawan yang jauh lebih ganas.
Rudal balistik berkecepatan tinggi dan drone berprofil rendah, bagai siluman di radar, membanjiri kapasitas deteksi dan respons sistem.
“Serangan Iran jelas dirancang untuk membanjiri kapasitas deteksi dan respons sistem pertahanan Israel. Ini bukan sekadar unjuk kekuatan, tapi juga uji kemampun,” ujar Dr. Eyal Pinkus, pakar pertahanan dari Herzliya Institute for Strategic Studies, seperti membuka tirai kelemahan.
Iran, seakan punya siasat, menggunakan kombinasi maut: drone Shahed yang lincah, rudal balistik jarak menengah yang cepat, serta beberapa rudal yang disinyalir memiliki kemampuan manuver tingkat tinggi di fase akhir lintasan.
Taktik ini, seperti tarian maut yang sulit diprediksi, jelas menyulitkan sistem pertahanan berbasis intersepsi kinetik yang diandalkan Israel.
Tak hanya urusan teknis, kelelahan sistem dan kru setelah serangkaian eskalasi militer sejak awal tahun juga disorot. “Iron Dome hebat, tapi bukan tak terkalahkan.
Bahkan teknologi tercanggih pun punya batas,” tutur mantan perwira Angkatan Udara Israel, Letkol (Purn) Amos Tal, seolah mengingatkan bahwa mesin pun bisa jenuh.
Merespons kenyataan pahit ini, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu buru-buru menyatakan pemerintah tengah mengevaluasi peningkatkan kesiapan pertahanan berlapis.
Baca Juga: Mesir Dituding Blokade Aksi Solidaritas, Ribuan Aktivis untuk Gaza Tertahan di Al-Arish
Aktivasi penuh sistem David’s Sling dan Arrow-3 kini menjadi prioritas, mengantisipasi gelombang serangan lanjutan.
Artikel Terkait
Modus Bakar Kabel di Pantai Mamboro Palu Resahkan Warga Citraland, Satu Pencuri Diamankan
Mesir Dituding Blokade Aksi Solidaritas, Ribuan Aktivis untuk Gaza Tertahan di Al-Arish
Bank Dunia Sebut Mayoritas RI Miskin, Rocky Gerung Sentil Keras Warisan Ekonomi Jokowi
Bupati dan Wakil Bupati Sisir Pasar Sentral Parigi, Bidik Penataan dan Kebersihan
Ratusan Ojol di 5 Daerah Tersenyum Terima Layanan Cek Kesehatan Gratis Jelang HUT Bhayangkara