Sulawesitoday - Mereka sudah jauh-jauh datang. Sudah bersiap. Tapi tidak sampai duduk di kursi ujian. Dua peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) terpaksa pulang sebelum ujian dimulai — bukan karena sakit, bukan karena terlambat, melainkan karena membawa alat curang.
Keduanya diskualifikasi di tempat. Di pintu masuk ruang ujian. Di hadapan ratusan peserta lain yang antre dengan tangan kosong dan kepala penuh materi.
Plt. Rektor Unsulbar, Prof. Dr. Tasrief Surungan, tidak banyak basa-basi soal ini. "Dua peserta langsung kami diskualifikasi karena terbukti membawa alat komunikasi yang digunakan untuk upaya kecurangan. Tidak ada toleransi bagi pelanggaran seperti ini," tegasnya, Sabtu (19/4/2026).
Yang ditemukan panitia bukan perangkat canggih. Cukup telepon genggam dan headset — disembunyikan di balik pakaian. Modus lama. Tapi rupanya masih ada yang mencobanya.
Pemeriksaan ketat sebelum masuk ruangan langsung membongkar semuannya. Tidak ada yang lolos dari prosedur itu.
Sebanyak 3.617 peserta mengikuti UTBK-SNBT di pusat ujian Unsulbar, terbagi dalam 17 sesi pelaksanaan. Mereka datang dari berbagai daerah — membawa harapan, membawa kegelisahan, membawa hasil belajar berbulan-bulan. Sebagian besar dari mereka sudah berkorban banyak hanya untuk bisa duduk di depan komputer ujian itu.
Dua peserta tadi tidak sampai ke sana.
Pihak panitia tidak menyembunyikan kekecewaan. "Kami ingin memastikan bahwa yang lolos adalah mereka yang benar-benar layak, bukan yang mencoba memanipulasi sistem," ujar perwakilan panitia pelaksana.
UTBK bukan hanya soal akademik. Itulah yang selalu dikatakan orang — dan hampir selalu dilupakan. Seleksi ini menguji lebih dari sekadar kemampuan menjawab soal. Ia menguji kejujuran. Menguji seberapa jauh seseorang mau pergi dengan cara yang benar.
Dan dua orang itu sudah menjawabnya — dengan cara yang salah.
Di luar insiden tersebut, pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 di Unsulbar secara keseluruhan berjalan lancar dan tertib. Tidak ada gangguan teknis yang berarti. Pengawasan berlapis yang diterapkan panitia terbukti mampu menjaga integritas seleksi dari awal hingga akhir.
Sebuah pelajaran bagi semua — termasuk mereka yang mungkin masih menyimpan rencana serupa untuk sesi berikutnya: sistem ini bekerja. Dan ia tidak memberi kesempatan kedua.
Travel Umroh di Majene Ini Tawarkan Paket Sekali Bayar Ibadah Berkali-kali
Artikel Terkait
Pahitnya Perjodohan Usia 33, Menolak Staycation Berujung Hinaan Tak Perawan dan Teror
Pansus LKPJ Sidak RSUD Anuntaloko, Temukan Fasilitas Baru Sudah Rusak
Banjir dan Api Mengepung Parigi Moutong, Legislator: Jangan Tunggu Bencana Besar
Tagih Bansos Jadup, Warga Langkat Robohkan Gerbang Kantor Bupati: Syah Afandin Janji ke Mensos
Viral WNA Timor Leste Sobek Rupiah di TikTok, Terancam 5 Tahun Penjara Meski Minta Maaf