• Senin, 22 Juni 2026

Skandal Predator di Ponpes Ndholo Kusumo Pati, Puluhan Santriwati Diduga Jadi Korban Nafsu Pengasuh Berkedok Wali

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Selasa, 5 Mei 2026 | 19:31 WIB
Skandal dugaan kekerasan seksual guncang Ponpes Ndholo Kusumo Pati. Pengasuh diduga cabuli 50 santriwati dengan doktrin sesat masuk surga.
Skandal dugaan kekerasan seksual guncang Ponpes Ndholo Kusumo Pati. Pengasuh diduga cabuli 50 santriwati dengan doktrin sesat masuk surga.

Sulawesitoday - Surga yang dijanjikan Ashari (58) berubah menjadi neraka bagi puluhan santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Pati. Pengasuh pondok itu diduga mencabuli sedikitnya 50 anak didiknya dengan modal doktrin sebagai "Waliyullah" atau wali Allah.

Para korban yang mayoritas anak yatim dipaksa patuh demi tiket menuju akhirat.

"Harus patuh jika ingin masuk surga, dia mengaku keturunan nabi," ujar kuasa hukum korban, Ali Yusron, Selasa, 5 Mei 2026.

Baca Juga: Syarat Harga Mati Revitalisasi Pusat, Di Balik Ciutnya Kuota Perbaikan Sekolah Parigi Moutong

Kasus ini sebenarnya bukan barang baru di meja hijau. Pada 2024, sejumlah korban sempat melapor ke Unit PPA Satreskrim Polresta Pati namun menguap begitu saja.

Ali menduga ada kesepakatan di bawah tangan antara pengacara terdahulu dengan pihak terlapor. "Mungkin ada win-win solution, makanya kasusnya mandek," kata Ali menambahkan.

Bau busuk ini kembali terendus setelah seorang santriwati berani memecah kesunyian. Remaja itu mengaku muak dengan kelakuan Ashari yang disebutnya telah berlangsung sejak 2022.

Ashari diduga mengincar santriwati tingkat MTs yang berasal dari keluarga tidak mampu. "Korbannya digonta-ganti semaunya selama tiga tahun berturut-turut," ungkap Ali geram.

Kemarahan warga akhirnya memuncak pada Sabtu, 2 Mei 2026, lalu. Ratusan massa mengepung komplek pondok putri dan menyeret paksa sang pengasuh keluar dari sarangnya.

Baca Juga: Gaduh Perpres Ekstremisme Baru, Netizen Desak Perampasan Aset Koruptor Ketimbang Awasi Keluarga

Aksi massa yang tergabung dalam Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi itu berlangsung tegang. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan "Sang Predator" saat polisi menggiring laki-laki tua itu.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi perihal kelanjutan proses hukum. Publik kini menunggu, apakah hukum akan tegak atau kembali takluk di bawah bayang-bayang status sang wali palsu.

Kesaksian demi kesaksian terus bermunculan dari balik tembok pesantren yang sepi itu. Meski begitu, luka mendalam para santriwati di Pati ini nampaknya butuh waktu lama untuk sembuh total.

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini