• Minggu, 9 Agustus 2026

BMKG Peringatkan Potensi Karhutla di 13 Daerah Sulawesi Tengah, Buol Paling Rawan

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 8 Agustus 2026 | 21:35 WIB
BMKG memetakan potensi karhutla di 13 kabupaten kota Sulawesi Tengah pada 9 hingga 15 Agustus 2026.
BMKG memetakan potensi karhutla di 13 kabupaten kota Sulawesi Tengah pada 9 hingga 15 Agustus 2026.

Sulawesitoday - Tiga belas kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah berada dalam pungan ancaman kebakaran hutan serta lahan pekan ini. Data BMKG menunjukkan seluruh wilayah tersebut memiliki tingkat kerawanan bahan bakar permukaan tanah yang sangat tinggi.

"Potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sulawesi Tengah saat ini berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi di sejumlah kabupaten/kota," kata Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Taufiq Hidayah, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Ancaman ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda wilayah Sulawesi Tengah. Suhu udara membumbung tinggi berpadu dengan kelembapan rendah serta tiupan angin kencang.

Kondisi fisis lingkungan tersebut mempercepat rambatan api di area terbuka. Dedaunan kering dan alang-alang kini menjadi bahan bakar yang sangat reaktif.

Kabupaten Buol mencatatkan risiko kemudahan terbakar paling tinggi dibanding wilayah lain. Indeks kelembapan bahan bakar ringan di kawasan ini menembus angka 92.

Parigi Moutong, Poso, dan Banggai Laut menyusul dengan angka indeks mencapai 91. Seluruh area rumput serta ranting di daerah ini dalam kondisi sangat kering.

Baca Juga: Potensi Tambang Melimpah, Parigi Moutong Gigit Jari Tanpa DBH Royalti

Potensi intensitas kobaran api terbesar terdeteksi di kawasan kepulauan. Wilayah Banggai Laut dan Banggai Kepulauan mencatat nilai indeks cuaca kebakaran paling tinggi.

"Oleh karena itu, kami mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melakukan langkah-langkah mitigasi," kata Taufiq.

Pemerintah daerah dituntut segera mengaktifkan posko siaga hingga tingkat kecamatan. Penyiagaan personel pemantau secara bergiliran menjadi kunci penanganan awal.

Sinergi lintas lembaga wajib diperkuat untuk memetakan prioritas pengawasan lapangan. BPBD, TNI, Polri, serta relawan harus bergerak dalam satu komando penanganan.

Patroli darat dan udara perlu diintensifkan pada jam-jam rawan pemantik api. Penggunaan teknologi kamera pengawas serta drone memudahkan deteksi dini titik panas.

Sarana pemadaman api dan sekat bakar harus dipastikan siap di lokasi rawan. Ketersediaan cadangan air serta peralatan darurat menjadi benteng pertahanan utama.

Pemerintah daerah diminta menyediakan saluran pengaduan darurat yang beroperasi penuh. Layanan warga ini penting untuk merespons dengan cepat setiap temuan asap.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini