Sulawesitoday - Dalam hiruk-pikuk Pilkada 2024, perhatian terpusat pada sebuah TPS yang mungkin tak banyak diketahui oleh masyarakat umum: TPS Khusus 901 di Lapas Parigi, Sulawesi Tengah. Sebanyak 287 warga binaan yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan 24 orang tambahan dari Daftar Pemilih Tambahan (DPTB) hadir untuk menyalurkan hak pilih mereka.
"Jumlah warga binaan saat ini memang 362 orang, tapi tidak semuanya terdaftar sebagai pemilih. Ada beberapa yang baru masuk dan belum sempat mendaftar," jelas Didik Niryanto, Kepala Lapas Kelas III Parigi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun berada di balik jeruji, hak konstitusional warga binaan tetap diupayakan terpenuhi.
Baca Juga: Gubernur Bengkulu Terjerat Kasus Gratifikasi, Gaji Guru Honorer Diduga untuk Pilkada 2024
Menjelang voting day, persiapan di TPS Khusus hanya memakan waktu satu hari. “Semalam, kotak suara dan surat suara sudah kami distribusikan ke TPS khusus,” ungkap Didik. Persiapan singkat ini dilakukan melalui koordinasi intensif antara pihak Lapas dan KPPS Desa Olaya.
Tidak ada perlakuan khusus bagi para pemilih di TPS ini. Prosesnya mengikuti prosedur standar, meskipun suasana pemungutan suara sedikit berbeda dari TPS pada umumnya. Hal ini adalah cerminan komitmen untuk menempatkan semua warga negara setara di mata hukum, termasuk mereka yang tengah menjalani pembinaan.
Baca Juga: Inspirasi Hidup, Anak Lunasi Utang Orang Tua Setelah 24 Tahun, Netizen Terpukau
“Semua warga binaan sangat antusias,” tambah Didik. Sejak pagi, mereka telah memadati area TPS untuk memberikan suara. Beberapa di antaranya bahkan membawa surat pindah memilih karena sebelumnya terdaftar di daerah lain.
Semangat ini menggambarkan betapa pentingnya kesadaran politik, bahkan bagi mereka yang sedang menjalani masa hukuman. Sebagai warga negara, hak pilih adalah salah satu cara bagi mereka untuk tetap merasa terhubung dengan kehidupan di luar penjara.
Baca Juga: Fenomena Baru? Makeup Artist di Madura Rias Bayi Saat Tidur, Tuai Kontroversi
Namun, tak semua berjalan mulus. Beberapa tantangan muncul, terutama terkait logistik dan koordinasi. "Kami mengupayakan yang terbaik, meski waktu persiapannya sangat singkat," kata Didik. Selain itu, sosialisasi kepada warga binaan juga menjadi tantangan tersendiri.
Meski begitu, harapan tetap ada. Penyelenggaraan TPS khusus seperti ini tidak hanya memastikan hak konstitusional terpenuhi, tetapi juga menjadi bentuk inklusi yang jarang disorot. Dengan partisipasi aktif warga binaan, pemilu menjadi lebih inklusif, memperlihatkan bahwa demokrasi tidak mengenal sekat sosial.
Baca Juga: Pernyataan Prilly Latuconsina Soal Pria Mapan dan Wanita Mandiri Picu Kontroversi di Media Sosial
Pilkada di TPS Khusus Lapas Parigi adalah bukti nyata bahwa demokrasi melibatkan semua elemen masyarakat, tanpa kecuali. Warga binaan, dengan status mereka yang seringkali terpinggirkan, tetap diberi ruang untuk menyuarakan pilihan mereka.
“Tidak ada perlakuan khusus, karena mereka juga memiliki hak yang sama seperti warga negara lainnya,” tegas Didik. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa dalam demokrasi, semua suara memiliki bobot yang sama, termasuk mereka yang berada di balik jeruji.
Artikel Terkait
Intrik Politik Jelekkan Diri untuk Elektabilitas di Pilkada Sulawesi Tengah, Hengky Idrus: Bukti Ketidakmampuan dalam Beradu Visi Misi
Pernyataan Prilly Latuconsina Soal Pria Mapan dan Wanita Mandiri Picu Kontroversi di Media Sosial
Fenomena Baru? Makeup Artist di Madura Rias Bayi Saat Tidur, Tuai Kontroversi
Inspirasi Hidup, Anak Lunasi Utang Orang Tua Setelah 24 Tahun, Netizen Terpukau
Gubernur Bengkulu Terjerat Kasus Gratifikasi, Gaji Guru Honorer Diduga untuk Pilkada 2024